Pernah merasa sulit menulis puisi bahagia? Ya, anda tidak sendirian. Banyak sekali puisi ditulis karena ‘terluka’. Lebih mudah menulis puisi sedih ketimbang puisi bahagia. Betul?!
Anda tidak salah, karena hidup itu penuh derita. Itu kenapa butuh jalan pencerahan. Seringkali kita menulis puisi untuk mengeluarkan hormon2 jahat dalam tubuh.
Kerennya lagi, puisi sedih jauh lebih powerfull ngena di hati pembaca ketimbang puisi bahagia. Meski berulang kali ditulis dan ditafsirkan, masih saja minat terbanyak tetep puisi sedih.
Tidak percaya? Cobalah nulis Sapardian yang sedih. Sekarang. Ya, sekarang.
Ada begitu banyak langgam bahasa di bumi ini. Ada keindahan yang unik pada masing-masingnya. Ketika menulis puisi, jadilah Majnun kepada Laila. Jadilah orang lain, jadilah segalanya yang menemukan keindahan yang unik dalam bahasa.
Jadilah orang lain; ya, saat mencintai seseorang anda tampak berbeda. Anda berpenampilan secara maksimal. Bukan anda yang sehari-harinya.
Begitu juga saat menulis puisi. Saat anda menjadi orang lain, anda pasti berusaha beda dengan yang lainnya, beda dari anda yang sehari-harinya. Anda tidak bisa tampil apa adanya, karena itu bukan puisi. Puisi adalah anda yang berusaha berpenampilan luar biasa.
Anda yang biasanya mengatakan : “aku mencintaimu” Anda yang luar biasa mengatakan : ” izinkan aku mencintai sebutir debu yang melekat di ujung sepatumu”
Untuk mengatakan cantik / ganteng, misalnya :
“Kamu cantik bagai bidadari surga” ( x ) “Kulihat rautmu yang turki, rambutmu yahudi. Berlinmu yang lain, setelah aku pergi” ( โ )
Jadilah segalanya; ya, seumpama anda dilahirkan sebagai angin, atau daun-daun, atau bunga-bunga. Tentu saja ada batas gerak/sifat lahiriah yang anda tak mungkin bisa menghindar.
Angin tidak dapat menembus lautan terdalam, daun hanya kepada tanah, bunga-bunga senantiasa kuncup mekar dan layu baktinya.
Anda yang biasa mengatakan : ” Aku adalah angin yang menembus lubuk hatimu” Anda yang luar biasa akan mengatakan : “kemarilah, kita saling mengadu kepada tanah. Betapa lelah kita menyembunyikan air mata agar tidak begitu saja tumpah”.
Ada begitu banyak langgam bahasa di bumi ini. Jepang, Cina, India, Arab, Eropa, Amerika, Jawa, Sunda, Melayu, Batak, Dayak, Bugis, dsb. Jadilah yang anda suka, yang anda bisa tampil luar biasa. Di mana anda dengan mudah menemukan keunikan dalam bahasa.
“Hari gini, diksinya itu-itu saja, ga banget deh”.
Mungkin anda perlu membaca tulisan-tulisan anda sendiri di waktu lalu.
Catatlah diksi yg pernah anda pakai, cari dan gunakan diksi yang berbeda tiap kali nulis.
Sederhana. Ya, sesederhana itu.
Jika anda berputar-putar pada diksi yang pernah anda pakai automatis tulisan anda saat ini tidak berkembang. Pengetahuan puisi anda jalan di tempat.
Cara kedua, carilah sinonim dari diksi yang pernah anda pakai. Contoh, jika kemarin anda sering menulis aku cinta padamu, aku kangen kamu, aku rindu kamu, nahhhhh ganti saja dengan izinkan aku mencium sebutir debu yang melekat di ujung sepatumu.
Cobalah dua cara ini. Rasakan perbedaan dengan sebelum anda memakai kedua cara yang powerfull ini.
Masih bingung? ๐คญ Cobalah klik ayat sapardian di browser. Sebuah kamus kecil yang akan membantu anda menemukan diksi.
Praktek, praktek. Tools ini akan berguna jika anda praktekkan sekarang. Tunggu apalagi, yuk nulis sapardian. Salah yo gpp. Ga bakalan ada yang marahi.
Puisi sering kali disebut sebagai bahasa rasa/bahasa jiwa, oleh sebab itu dalam menulis puisi lebih disarankan untuk merenung ke dalam terlebih dahulu ketimbang sekadar merefleksikan apa yang tertangkap di luar.
Hal ini juga berlaku sebagai salah satu cara untuk menyiasati tema yang disuguhkan.
Dalam menginterpretasikan sebuah tema dalam puisi, ada baiknya kita melihat tema tersebut sebagai pemandu/benang merah dari apa yang ingin kita tulis. Ini bisa membantu kita agar tak terjebak dalam tema itu sendiri.
Meluaskan ide dan membebaskan imajinasi lalu menariknya ke dalam benang merah sebuah tema akan memudahkan kita dalam menulis.
Semakin luas kita melihat sebuah tema, maka semakin luas juga jangkauan puisi kita. Semakin bebas kita berimajinasi, maka semakin cair pula tulisan kita.
Di sini saya mencoba berbagi sudut pandang dalam menyiasati sebuah tema dalam puisi. Bagi saya pribadi, tema adalah gambaran besar maka saya perlu mencari detaildetail kecil yang menarik, baik itu variabel yang terkait atau rasa yang membentuk tema tersebut.
Setelah menemukan hal yang menarik tersebut, maka saya akan menarik seluasluasnya hal tersebut dan membebas-liarkannya sejauh mungkin dari ranahnya.
Hal ini memberikan saya banyak perspektif dan point of view ketika saya mengeksekusinya.
Agar lebih jelas, saya akan mencontohkannya sedikit: Misal dalam tema 3 yang sedang kita garap minggu ini, yaitu: restoran
Bila mendengar kata restoran, hal pertama yang terlintas adalah tempat makan dan makanan.
Dari 2 hal ini bisa kita perluas semisal: Tempat makan apa? Apakah tempat makan secara fisik/jasmani atau rohani? Bisa juga makanan apa? Siapa yang makan? Mengapa mereka makan? Siapa yang meracik makanan? Mengapa diracik seperti itu? Dst, dst, …
Mari kita ambil 1 dan kita perluas lagi Misal kita pilih “Siapa yang meracik makanan?” Jawabannya tentu saja koki, maka perluasannya sbb: Dia koki yang seperti apa? Makanan seperti apa yang dia racik? Apa tujuannya meracik makanan tsb?
Atau bisa juga kita mengadaptasi koki kepada hal-hal lain yang berhubungan dengan racik meracik, semisal:
Kita adalah koki untuk diri kita sendiri dan makanan apa yang akan kita racik dan suguhkan? Atau Tuhan adalah koki atas alam semesta dan bagaimana kita menikmati dan menilai racikannya? Dst, dst, …
Jika kita belum puas, maka bisa kita perluas lagi. Intinya semakin kita merenung ke dalam maka akan semakin banyak pilihan yang kita temukan karena jangkauannya semakin luas dan bebas.
Sebagai penutup, saya ingin menyampaikan bahwa tulisan ini adalah pandangan saya secara pribadi yang tentu saja sifatnya tidak baku.
Dan karena ketidakbakuannya tersebut, maka tulisan ini dimaksudkan sebagai bahan diskusi tanpa bermaksud menggurui.
Semoga tulisan ini bisa membawa manfaat bagi kita semua dalam mengembangkan diri di dunia hobby tulis menulis, terkhusus puisi.
Jika dirasa kurang bermanfaat dan atau bahkan omong kosong belaka; saya mohon maaf yang sebesarbesarnya
MEMAHAMI LEBIH BANYAK BAGAIMANA SAPARDIAN BEKERJA, 2
Gagasan atau pengalaman puitik seorang penyair akan mudah tersampaikan bila suasana sudah terbangun. Seorang penyair akan mengupayakan penuh membawa pembaca ke dalam pengalaman intuitif yang demikian bening.
Dalam tradisi penulisan lirik, membangun suasana adalah hal penting. Memperhatikan diksi, lebih detil pada deskripsi, mengawali suatu cerita adalah sekian bagian dari membangun suasana.
Giliran Anda yang menulis. Susunlah suasana pada lirik Anda sebaik Anda mengingat kenangan.
MEMAHAMI LEBIH BANYAK BAGAIMANA SAPARDIAN BEKERJA, 1
Kita memasuki Sapardian lebih dalam dan memahami lebih banyak bagaimana Sapardian bekerja. Kita bisa memulainya dengan KOLOKASI.
Mari kita melihatnya dalam puisi SEPERTI KABUT yang terdapat dalam buku KOLAM.
Sapardi Djoko Damono SEPERTI KABUT
aku akan menyayangimu seperti kabut yang raib di cahaya matahari : aku akan menjelma awan hati-hati mendaki bukit agar bisa menghujanimu : pada suatu hari baik nanti
Hanya dua kalimat saja dengan tipografi yang disengaja. Terdapat kolokasi bagian 1 : Kabut – Cahaya Matahari bagian 2 : Awan – Hujan
Mula-mula mempunyai sifat kabut. Kabut akan menguap karena suhu panas dari sinar matahari. Sifat-sifat ini memberi logika pada tulisan kita. Tidak mungkin sinar matahari kalah dengan kabut. Maka untuk memulai kalimat aktif tentu diawali dengan kabut, bukan sebaliknya. Begitu juga dengan awan dan hujan pada bagian dua. Gerakan awan sebelum sempurna menjadi awan mendung tebal digambarkan di sini. Bagi Saya, sangat tidak menarik bila kita mengawali puisi kita dengan hujan.
Jika ditarik lebih singkat, barangkali begini; Aku akan menyayangimu pada suatu hari baik nanti
Nah, giliran Anda yang menulis. Jika Anda memilih kolokasi sebagai jalan, tentukan dulu kolokasi baru kemudian menyusun kata demi kata.
Beberapa sajak dengan sangat mudah kita mengerti maknanya. Bahkan cepat sekali kita menangkap apa yang ditulis oleh penulisnya. Kalimat-kalimatnya jelas dan umumnya menggunakan kalimat percakapan sehari-hari. Biasanya berisi reaksi/tanggapan terhadap masalah sosial. Ini yang disebut puisi diafan.
Beberapa sajak cenderung menggunakan perlambang2 atau kiasan. Tapi juga tak terlalu banyak komposisinya. Bentuk fisik dan makna tampak harmonis. Kalimatnya tampak samar. Pembaca tak langsung menemukan makna tulisannya tapi juga tak terlalu sulit menjelajahinya. Biasanya cenderung menggambarkan suasana batin si penulisnya sendiri. Ini yang disebut puisi prismatis
Beberapa sajak ditulis untuk sukar dimengerti. Kalimat-kalimatnya kelihatan mewah tapi bikin pening kepala. Banyak sekali kiasan. Dalam satu kalimat, penggunaan kiasan bisa jadi tiap-tiap kata. Pembaca seperti dipaksa untuk mengerti apa yang dimau penulisnya. Ini yang disebut puisi gelap.
Ketiganya dibutuhkan dan bagus.
Nah, menurut anda, Sapardian tergolong yang mana?
Sudahkah Sapardian sajak anda hari ini? Yuk cek & ricek lagi
Lazimnya digunakan dalam penulisan skenario. Tapi sering juga digunakan dalam penulisan puisi.
Struktur tiga babak memiliki awal, tengah dan akhir. Bisa juga Penataan, Konfrontasi, dan Penyelesaian.
Ini rumusan baku agar penceritaan anda menarik. Jika anda ingin berpanjang-panjang ria menulis puisi, pastikan memenuhi unsur Struktur Tiga Babak.
Mari kita lihat contohnya;
Sapardi Djoko Damono BAYANG-BAYANG
/1/ bayang-bayang di jalan itu mendadak berhenti bergerak bahkan ketika ada yang bertanya kenapa
/2/ bayang-bayang di jalan itu tidak juga mau bergerak dan semakin rapat dan berjanji tak akan meninggalkannya begitu saja di sebuah jalan menurun ke arah perempatan bising yang tanpa tanda lalu-lintas tempat ia pada suatu hari berada tepat di bawah matahari
/3/ bayang-bayang di jalan itu menyatu dengannya, sepenuhnya
Kalo dilihat dari isinya, puisi ini tak jauh beda dengan BERJALAN KE BARAT WAKTU PAGI HARI dan SONET : X . Lebih cenderung pada suasana batin ato eksistensi si penulis.
Tapi mari kita bahas dari sisi strukturnya,
Nomer 1 : bagian pembuka/awal yang cenderung pada pengenalan bayang-bayang. Nomer 2 : bagian tengah berisi penjabaran lebih dalam tentang bayang-bayang. Nomer 3 : bagian akhir/klimaks terdapat kata “menyatu”
Dari 3 babak di atas kita bisa menerka Tema : Pergulatan batin Si Penulis Setting Lokasi : perempatan tak bertanda lalu lintas Setting Waktu : Siang hari
Contoh di atas menggunakan pola induktif, gagasan utamanya ada di bagian akhir. Dalam penulisan puisi Struktur Tiga Babak, Anda bisa menggunakan pola sebaliknya yakni pola deduktif yang di mana gagasan utamanya di bagian awal
Menarik bukan?! Ini rumusan baku agar apa yang anda sampaikan menarik. Jadi, pastikan anda melatih diri menulis puisi dengan struktur tiga babak jika ingin berpanjang-panjang ria.
Beberapa hal yang bisa membantu Anda menjadi penulis Sapardian yang lebih baik.
1. Nyamankan posisi menulis (PW = Posisi Wueenakk) โ Posisi yang nyaman akan mengubah seluruh getaran dan suasana hati dari apa yang Anda lakukan.
Jauhkanlah gangguan2 dan Anda akan lebih menikmati menulis.
Luangkan beberapa menit untuk membersihkan tempat duduk, tempat Anda gegoleran sebelum Anda mulai menulis dan bersihkan sambil jalan.
2. Siapkan buku puisi di samping Anda
__ Kalaupun tidak ada buku puisi, minimal gugling puisi di internet. Cari puisi dengan SUASANA yang sama dengan tema/tantangan mingguannya. Rasakan suasananya saat Anda mengembangkan tulisan dan susunlah suasana batin Anda sendiri
3. Panduan di grup adalah perangkat puitika
โ Sering2lah melihat panduan grup. Praktekkan. Tak perlu terburu-buru. Cek n ricek lagi, apa cara ucapnya sudah sapardian atau belum.
4. Imaji dan Bunyi adalah resep
โ Jangan mematuhi resep dengan tepat. Sebaliknya, gunakan mereka sebagai panduan. Andalkan rasa + intuisi