Sering mengalaminya? Mungkin anda butuh peta. Jelajahi ide dengan sebuah peta. Gunakan brainwriting dan petakan tema sapardian minggu ini.
Until i found you.
1. Apa yang pertama2 ada di benak anda, catatlah. . Setelah mendapatkan beberapa item, melangkahlah di bagian kedua.
2. Siapa I, siapa YOU. Catat saja. Kira2 berapa umurnya, pakaian yg biasa dikenakan, ato hal2 yg melekat padanya. Di mana I dan YOU bertemu? Catat bagaimana ceritanya.
3. Ingat, tidak semua ide sudah matang. Semua tadi adalah bahan baku. Nikmati proses menulisnya dengan sering2 membaca sajak2 yang bagus.
Bisa jadi anda bosan pake Aku-liris. Gantilah dengan dia/ia- liris.
Bisa jadi anda bosan pake perumpamaan itu-itu saja. Ya ganti saja. Urusan berhasil/tidak itu soal biasa.
Kalau biasanya sajak cinta anda adalah sepasang manusia. Ganti saja. Bisa jadi cinta pohon dan tanah, kumbang dan bunga, angin dan perahu. Pohon apel dan rumus gravitasi, apapun bisa anda jadikan perumpamaan. Jangan takut salah. Jangan takut dihina. Puisi-Shaming akan tetap ada sampai kapanpun. Tidak perlu anda hiraukan. Orang berak mah setiap hari.
Mengapa Tulisan Anda tidak Berkembang? A.S. Laksana
Ada sejumlah alasan mengapa tulisan anda tidak kunjung membaik. Beberapa penyebabnya antara lain:
1. Anda kurang membaca.
Anda gagal menulis bagus karena kurang membaca. Membaca adalah cara yang tak tergantikan bagi siapa pun yang ingin menulis bagus. Membaca membantu anda mengembangkan kosakata, membantu anda meningkatkan keterampilan tata bahasa, dan memberikan banyak contoh bagaimana para penulis bagus mendayagunakan kemahiran berbahasa untuk melahirkan ekspresi-ekspresi artistik.
Tetapi membaca saja tidak cukup. Anda perlu membaca aktif dan kritis. Itu berarti mencari hal-hal yang dilakukan secara baik oleh penulis lain, bertanya kepada diri sendiri mengapa ia berhasil, dan menerapkan hasil pembelajaran itu untuk tulisan anda sendiri. Dengan kata lain, membaca membantu anda mempelajari bagaimana para penulis bagus melakukan apa yang mereka lakukan—dan itu akan mengilhami anda untuk menemukan cara anda sendiri.
Jika anda kurang membaca, anda rentan terjangkit delusi: Anda akan menganggap apa saja yang muncul di benak anda sebagai ide cemerlang.
2. Anda tidak tahu kenapa sebuah tulisan menjadi bagus dan kenapa menjadi buruk.
Jika anda kurang paham baik dan buruk, bagaimana anda bisa menilai tulisan anda sendiri? Jalan menjadi mahir, dalam berbagai bidang, adalah mengkopi kemahiran para pendahulu, orang-orang yang mengerjakan urusan dalam cara sebaik-baiknya, dan menjadikan semua itu milik anda sendiri—bagian dari suara kepenulisan anda. Bagaimana anda tahu apa yang bisa ditiru dan apa yang tidak boleh ditiru? Bagaimana anda akan belajar dari kesalahan dan keberhasilan penulis lain?
3. Anda tidak sungguh-sungguh melatih diri.
Anda tidak melatih otot-otot imajinasi anda. Jika anda ingin menulis bagus, anda perlu melatih otot-otot itu secara teratur. Karena itu anda perlu menulis setiap hari, menjadikannya sebuah rutin, tetapi anda tidak bisa hanya menulis begitu-begitu saja setiap hari. Ingat poin #2. Anda harus memahami kualitas tulisan. Ini berarti lebih dari sekadar menuliskan ide ketika muncul di kepala anda. Anda perlu memperbaiki pengetahuan terus-menerus, selain menulis setiap hari. Anda perlu mencoba teknik-teknik baru, hal-hal baru, dengan kata-kata anda, dengan kalimat anda, dengan cara penceritaan anda. Bermain-mainlah dengan gaya sampai anda menemukan bentuk yang elegan milik anda sendiri.
4. Anda tidak sabar.
Menulis membutuhkan waktu. Jika tujuan anda adalah menjadi penulis bagus secepat mungkin, percayalah bahwa tidak ada jalan untuk menipu kenyataan bahwa hal itu akan memakan waktu berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun sebelum anda melihat peningkatan besar dalam kemampuan menulis anda. Itu pun jika anda tahu bagaimana cara belajar.
5. Tulisan anda membosankan
Efek langsung dari tidak tahu baik dan buruk adalah tulisan anda membosankan. Anda mungkin menulis setiap hari, tetapi tulisan anda hanya berupa jajaran kalimat. Anda asyik sendiri, melantur tidak karu-karuan, merasa bahwa semua yang anda pikirkan penting bagi pembaca. Jika anda seperti itu, nasihat Don Vito Corleone penting anda ingat: “Santino, tidak semua isi pikiranmu perlu diketahui orang lain.”
Cerita yang membosankan adalah petunjuk bahwa penulisnya tidak betul-betul memahami cara kerja fiksi. Mungkin anda hanya menyampaikan informasi-informasi tentang kejadian. Itu bukan cerita; itu laporan jurnalistik. Cerita adalah tentang karakter, kondisi mereka, dan perjuangan mereka, bukan hal-hal yang terjadi di sekitar mereka.
Dari sisi pendayagunaan bahasa, penulisan fiksi jauh lebih rumit ketimbang nonfiksi. Ada banyak aspek yang masing-masing perlu anda kuasai sebaik mungkin untuk menulis fiksi yang baik. Dalam nonfiksi, yang diperlukan adalah kejernihan dan penyajian yang elegan, dan, tentunya, anda punya sesuatu yang berharga untuk disampaikan. Di Indonesia, doktor yang kualitas tulisannya seimbang antara fiksi dan karya-karya akademisnya adalah Pak Kuntowijoyo.[]
Dalam dunia jurnalistik dikenal istilah straight news dan features.
Singkatnya begini, straight news menyajikan apa yang penting. Sedang features menyajikan apa yang menarik. Bila straight news lebih mengupas data, lain halnya dengan features yang lebih menyentuh sisi emosional pembaca.
Dalam dunia sajak, banyak sekali tipe sajak straight news ini. Sajaknya to the point, tidak muter-muter, senggol bacok, apa yang dilihat dirasakan itu juga yang diungkapkan. Tanpa embel apa-apa
Lain halnya tipe features, penyajiannya tidak langsung, pengennya samar dan muter-muter dulu agar terbentuk empati pada pembacanya. Apa yang dilihat dirasakan tidak segera diungkapkan. Tipe ini akan mencari cara agar sama2 saling enak. Baik penulis dan pembaca. Tidak menggurui, berceramah bahkan bersabda seolah pilihannya paling benar. Sisi emosional akan dibangun perlahan-lahan.
Untuk merangsang kreatifitas, biasanya saya akan memulai dengan Brainwriting. Apa itu brainwriting? Apa fungsinya untuk puisi?
Singkatnya begini, Brainwriting adalah sebuah peta ide menulis. Saya butuh peta untuk menulis buku puisi, saya butuh peta untuk membaca sebuah buku puisi. Sebelum menerbitkan e buku puisi, saya akan mengeluarkan sebuah tema/tantangan tiap minggunya. Dari minggu pertama sampai minggu di akhir bulan, tema/tantangan saya buat berdekatan dan berkaitan satu sama lain. Agar nyaman membacanya, agar tidak loncat ke sana-sini.
Lalu apa fungsinya brainwriting untuk penulis? Yups, sudut pandang.
Sebagai penulis tentu kita harus lebih jeli melihat sesuatu lebih dari pembaca.
Dibutuhkan pelbagai sudut pandang untuk itu. Anda kudu berlatih, anda tidak boleh terpaku pada satu sudut pandang. Anda harus mencoba pelbagai sudut pandang.
Anda bisa belajar dari dunia fotografi. Dalam dunia fotografi dikenal dengan istilah angle. , angle merupakan sudut pengambilan gambar saat memotret objek. Angle memotret ada banyak , Normal Angle (Eye level), High Angle (Sudut tinggi), Low Angle (Sudut rendah), Bird view Angle (Sudut sangat tinggi), Frog eye Angle (Sudut sangat rendah).
Minimal sudut pandang yang dimiliki seorang penulis puisi, ada 3. Yakni diri sendiri, sudut orang kedua ( yang terkena efek secara langsung) dan yang ketiga adalah sudut pandang pembacanya yang terkena efek secara tidak langsung. Praktekkan di komunitas sapardian 👌
Menentukan sudut pandang hanya bisa diraih dengan sering2 menulis dan mencoba sudut pandang baru.
Yuk nulis 3 sapardian dan petakan sapardian anda!
Di bawah ini brainwriting saya saat nulis Dongeng Tsunami. Saya bagi menjadi empat sudut pandang. Dari keempat sudut pandang tsb saya bisa melihat lebih detail penjabaran tema.
Ada tools yang menarik untuk membuat rima. Klik saja akhiran yang anda kehendaki, misal akhiran -ing. biasanya saya kombinasikan dengan applikasi KBBI offline.
Saat booming film Ada Apa Dengan Cinta pada tahun 2002 dengan bintangnya Dian Sastro, saat itu pula SDD merilis bukunya berjudul Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro?
Saat buku Soekarno DI BAWAH BENDERA REVOLUSI sedang digandrungi anak muda, saat itu pula Jokpin merilis buku Di Bawah Kibaran Sarung
Contoh di atas adalah pengoptimalan judul dengan Search Engine. Maka jangan takut memilih judul.
Fungsinya apa, tentu saja marketing. Nama-nama besar di atas sudah melakukannya. Tak perlu malu, pilih saja yang paling viral saat ini.
Bayangkan jika anda Dahlan Iskan kemudian menggunakan kata TETENGER untuk Gapura Selamat Datang, juga menggunakan penyebutan NYI untuk merujuk kata ganti perempuan.
Gunakanlah bahasa yang memiliki daya tarik semaksimal mungkin dalam judul puisi anda.
Erat kaitannya dengan deskripsi. Bagaimana anda menyusun puisi anda dengan sebuah deskripsi-deskripsi kecil.
Misal anda sedang olahraga pagi, kemudian anda menemukan seekor ular di jalan.
Jangan langsung menulis perasaannya : aku bertemu ular, ular itu indah sekali. Atau juga menuang perasaannya begini; aku takut ular, dia memiliki bisa yang paling beracun.
Tidak salah, tapi juga tak sepenuhnya benar. Saran saya, susunlah dulu deskripsi kecilnya kemudian tambahi perasaan anda.
Misal begini; sepasang kaki, jalan-jalan aspal pagi, detik meruncing seketika aku bersitatap dengannya. Dia mendesis, belum juga kumengucap apa-apa (Tambahi perasaan anda)
Dia ngeloyor, aku menegang sendiri – versi hahaha Sampai di sini, aku sepenuhnya sendiri – versi hehehe
Boleh jadi anda takut bertemu ular karena ular hewan yang berbisa. Tapi dalam menyusun puisi jangan langsung berbicara ketakutan anda.
Boleh jadi anda suka dengan corak warna ular yang mengkilap dan penuh warna. Tapi dalam menyusun puisi jangan langsung menuangkannya mentah-mentah
Saran saya, susunlah deskripsi-deskripsi kecilnya dulu. Kemudian menuang perasaannya. Atau mengait-ngaitkan dengan peristiwa lainnya.
Seorang Tetty Kadi, dalam lagu LAYU SEBELUM BERKEMBANG, menulis liriknya seperti ini. “Hatiku hancur mengenang dikau, berkeping-keping jadinya… “
Seorang Ahmad Dhani, dalam lagu AKU CINTA KAU DAN DIA, akan mengulik liriknya seperti ini. “Hancur hatiku mengenang dikau, menjadi keping-keping setelah kau pergi… “
Seorang Kahlil Gibran, dalam AKU BICARA PERIHAL CINTA, menulisnya begini.
“Apabila cinta memberi isyarat kepadamu, ikutilah dia, walau jalannya sukar dan curam. Dan pabila sayapnva memelukmu menyerahlah kepadanya Walau pedang tersembunyi di antara ujung-ujung sayapnya bisa melukaimu. Dan kalau dia bicara padamu percayalah padanya.
Seorang Ahmad Dhani, dalam lagu CINTA ADALAH MISTERI, mengulik liriknya begini.
“Bila cinta memanggilmu, kau ikuti kemana ia pergi, walau jalan terjal berliku, walau perih s’lalu menunggu Jika sayapnya merangkulmu, dan pisau tajam siap melukai… “
Saya berbicara tentang RENCANA. Tentang mengoptimalkan kemasan, baik Tetty Kadi, Kahlil Gibran maupun Ahmad Dhani memiliki corak warna tulisan. Tidak serta merta kembar plek ketiplek.
Seperti bikin kue Bolu. Saya yakin anda sudah menentukan toping kue bolu tersebut sebelum membikin rotinya terlebih dahulu.
Bahkan sebelum membeli bahan-bahan. Di benak anda sudah ada rencana-rencana kecil. Anda sudah tahu bakalan seperti apa kue bolu tersebut. Baik rasa, bentuknya, cara bikinnya, dsb.
Nah, begitu juga dengan mengemas sajak sapardian.
Jangan pernah menulis sajak sapardian secara spontan, jangan pernah! Saya tegaskan sekali lagi, jangan pernah bikin sajak sapardian tanpa tahu jadinya seperti apa nanti.
Sebelum menulis sajak sapardian, miliki rencana dengan baik. Nanti pakai bahan apa, masaknya bagaimana, takarannya seberapa, topingnya pakai apa.
Alasannya apa? Agar tulisan anda tidak bantet.
Prosa liris itu Naratif. Naratif itu adalah cerita.
Menulislah seperti anda sedang bercerita kepada seseorang. Yang ahli ghibah pasti mudah memahami prosa liris hahahaha. Bukan tanpa sebab, ahli ghibah tahu betul bagaimana mengawali gosip. Lalu menggiring gosipnya sesuai yang dia mau.
Begitu juga penulis sapardian. Harus tahu betul mengawali tulisannya. Lalu menggiring cerita seperti maunya. Tentu saja, tidak bisa spontan. Anda harus sering-sering baca buku-buku puisi naratif. Agar anda bisa mengemas sapardian anda dengan baik.
Satu lagi, anda bertanggung jawab terhadap bahasa Indonesia. Jika nanti kamus bahasa Indonesia semakin tipis, karena anda jarang memakainya, apa kata dunia?
Gaya bahasa atau perangkat puitika yang menggunakan satu kata dari kelompok yang berbeda merujuk ke satu atau dua kata sebelumnya.
Contoh:
Dia tak bisa pergi tanpa ponsel, dompet, dan ketakutan pada wabah.
Kata ponsel dan dompet itu barang yang lazim dibawa orang keluar rumah, keduanya satu kolokasi, tapi kemudian disandingkan dengan frasa “ketakutan pada wabah’, hal lain yang juga terbawa atau ada saat keluar rumah.
Apa yang bisa kita pelajari? Gaya bahasa ini memberikan kejutan/puntiran pada puisi anda.
Cobalah praktekkan, anda pasti menemukan sesuatu yang asyik.
Bukan saja ending, anda juga bisa menerapkan gaya bahasa Zeugma sebelum menulis puisi.
Bikinlah kalimat tunggal seperti contoh di atas, kemudian mengembangkan ceritanya.
Singkatnya begini, hari ini anda makan bakso, besok makan bakso, besoknya lagi makan bakso. Apa yang akan terjadi? Yup, anda bukan hanya penikmat bakso, anda berubah menjadi pecinta bakso. Lalu kemudian, besok lusa anda makan bakso lagi dan lagi hingga beberapa hari. Apa yang terjadi? Anda menjadi gila bakso.
Baik penikmat, pecinta maupun gila adalah sama bagi anda. Tapi akan sangat berbeda jika dihadapkan pada orang yang melihat anda. ( pembaca tulisan anda)
Semakin hari kamus bahasa Indonesia semakin bertambah tipis karena anda. Karena anda tak pernah menggunakannya.
Ada ribuan kata dengan pelbagai sinonimnya di kamus. Gunakanlah untuk menjelajah dan menemukan kata yang baru, kata yang mungkin tidak/jarang anda gunakan.
Aktual (baru) bisa berarti barusan ada, bisa juga berarti dulu ada tapi dilupakan dan ditelantarkan. Dunia tulis menulis sangat menerima baik ‘Kata’. Berbeda dengan dunia percakapan. Akan sangat aneh bila anda menggunakan kosakata yang jarang terdengar.
Membaca puisi2 lama, dan ketika menemukan kosakata baru, catatlah di buku harian anda. Mungkin suatu hari akan membantu anda dalam menulis puisi. Baik kosakata, frasa maupun klausa yang menarik menurut anda, catatlah.
Cobalah sedikit demi sedikit menggunakan temuan yang menarik anda dalam puisi yang anda bikin. Rasakan keajaiban setelahnya.