Lanskap Malam Akhir Musim Hujan – Abdul Hadi WM

Bantu Kamu Bikin Sajak Sapardian
Designed with WordPress
Buku Sapardian Bersama
Yuk gabung, ikut menulis bersama kami

Begitu juga dengan keindahan yang anda tulis.
“Bagiku keindahan, bagimu kejahatan”
Maka, jangan dengarkan orang lain. Mereka lagi buang hajat. Itu saja
Jangan mau menjadi tempat pembuangan hajat mereka
by

MENULIS RASA, MENULIS TERENCANA
“Saya nulis puisi kalo lagi mood”
Pernahkah anda membatin kalimat di atas? TOS dulu, kita sama. Saya juga pernah. Tapi faktanya, tidak semua tulisan dengan rasa itu bagus. Pendeknya begini.
Pernah tidak Anda mengalami pas mood lagi baik, tiba-tiba wifi lagi macet, hp lemot, balpoint dan kertas entah kemana? Apa yang terjadi? Buyarrrrr semua, bukan?!
Ini kelihatan sepele tapi ngaruh banget. Teknis sederhana tapi memungkinkan anda tidak bisa memaksimalkan kemampuan. Ini baru perihal fisik, belum lagi jika anda tak pernah melatih diri anda menulis, anda tidak tahu caranya mengkomunikasikan secara persis keindahan yang anda rasakan, anda tak pernah memperbaharui kemampuan menulis puisi.
Maka, buang semua anggapan ‘menulis rasa’ di benak anda. Latihlah diri anda, disiplinkan kegiatan menulis puisi anda. Rencanakan. Bila tidak bisa merencanakan, cukup ikuti panduan grup. Adaptasi dengan jaman, terus menerus menulis puisi, memperbaharui kemampuan.
Karena menulis puisi lebih terencana itu baik

Persembahan dari Komunitas Sapardian
Buku edisi 05
Cetak Awal Agustus
by

Tak ada puisi tanpa realitas. Tak ada puisi yang tidak bertolak dari sana. Tapi puisi bukan replika kasar dari dunia tak beraturan.
Ada proses dialektika, dimasak dulu kemudian disajikan dengan toping yang wuistimewa.
Jika seseorang pernah mengatakan bahwa keindahan itu ya kenyataan dan bukanlah keindahan yang diciptakan oleh seni. Seakan-akan proses penciptaan puisi cuma sekadar replika biasa.
Coba anda mendengarkan suara ayam yang sedang makan, cerewetnya naudzubillah. Bandingkan dengan lagu DEWA 19, lagu Noah, Rossa, dsb. Tidak sama bukan?!
Yang satu beraturan, yang lain tak keruan.
Tapi mengatakan puisi lebih indah dari realitas juga salah. Ini seolah-olah menganggap keindahan baru bisa dirasakan setelah terciptanya suatu puisi.
Puisi dan realitas, sama-sama mengejar suatu nilai — Keindahan, kehidupan, sebut saja begitu — meski tak pernah bisa secara absolut mencapainya.
by

Tak selalu berupa kesimpulan. Lebih sering menggantung, berhenti di tengah-tengah agar pembaca menebak dan memilih akhir sajaknya.
Ending SDD seperti tak ingin menyetir pembaca. Terkadang tak sempurna, meski ia selalu ingin demikian. Sajak-sajak yang ditulisnya memungkinkan percakapan yang bebas. Ini yang sering kita dengar bahwa puisi menyediakan ruang dialog.
Puisi bukan slogan yang menghendaki tindakan-tindakan praktis saat itu juga. Anda bebas bercakap-cakap dengan pembaca, begitu juga sebaliknya, pembaca bebas memaknai puisi anda.
Saat melihat matahari terbenam, masing-masing orang memiliki pengalaman sendiri, yang tak sepenuhnya bisa dikomunikasikan secara persis dalam satu sajak.
Saya kira begitulah ending SDD yang saya ketahui.