Sapardian Prosais tentang bagaimana anda mendeskripsikan puisi anda. Membangun suasananya. Apakah dua hal itu penting? Ya, tentu saja.
Ini soal bagaimana anda memahami struktur puisi yang anda tulis. Apakah logika menulis anda loncat-loncat atau lempeng akan bisa ketahuan di bagian ini.
Suasana itu soal rasa. Olah batin anda mengatakan demikian. Jika anda tak melatih kepekaan anda, mana mungkin olah batin anda mengatakan kebenaran.
Maka butuh dilatih. Yuk, masuk Sapardian lebih dalam.
Versi yang lebih lanjut adalah versi kedua. Faktor utamanya tiga Bait, kolokasi dan repetisi. Anda bisa menengok panduan grup untuk lebih jelasnya tentang bagaimana menyusun Sapardian.
Metode ini sangat baik bila anda ingin puisi lebih panjang. Perhatikan struktur tiga babaknya.
Komunitas ini berjudul Komunitas Sapardian. Sebuah komunitas yang mengulik lebih dalam metode menulis puisi dari sang legend, Sapardi Djoko Damono. Sebelum mengirim puisi, ada baiknya anda menengok aturan mainnya. Ada tiga versi Sapardian. Kali ini kita berbicara tentang versi pertama.
Faktor utama di versi ini adalah kolokasi dan repetisi. Apa itu? Anda bisa melihatnya pada ilustrasi di atas
Saya percaya metode ini sangat baik untuk diterapkan pada kepenulisan puisi. Yuk, menulis Sapardian.
Ada perbedaan yang mencolok dari teknik penulisan Sapardian dan puisi diafan. Perbedaan itu terletak pada ‘Aku’. Jika pada puisi diafan, ‘Aku’ sebagai penegasan. Aku sedang makan, aku sedang buang hajat, aku sedang teriak-teriak, aku keluarkan uneg-uneg, semua isi kepala.
Pada Sapardian ‘Aku’ selalu mengisyaratkan hilangnya sang penyair sebagai pembicara. Aku seakan-akan larut dengan deretan obyek. Aku di antara angin, hujan, awan, kayu, api, dsb. Aku sebagai bayang-bayang, aku sebagai kehadiran yang bukan kehadiran lahir. Sebagai bayang-bayang, aku bisa menjadi metafor perlawanan terutama terhadap penampakan. Bayang-bayang menginterupsi keharusan untuk terang ketika terang berarti pengawasan. Aku menandai tak lengkapnya cahaya dan kegelapan.
Aku pada Sapardian adalah sajak nada rendah. Puisinya seolah-olah dicatat dari gumam. Ia ditulis oleh orang yang tak memberi aksentuasi pada gerak, pada suara keras, atau kesibukan di luar dirinya. Ia justru suatu perlawanan terhadap gerak, suara keras, serta kesibukan di luar. Aku pada Sapardian memilih diam, dan memenangkan diam.
Sesungguhnya pilihan kepada diam ini adalah tema dasar dari pikiran-pikiran Sapardian, dari ide-idenya.
Setiap orang menginginkan sebuah emas. Dan emas tidak selalu berwarna kuning dan berbentuk koin.
Emas bisa berarti Cinta, kesuksesan, ketenaran, uang yang banyak, kesehatan, anak keturunan yang baik, segala kebaikan di dunia dan akhirat, emas bisa berarti pahala.
Emas juga bisa berarti viral.
Sudah berapa lama anda menulis puisi? Apakah menulis puisi sekadar mengisi waktu luang anda? Tidakkah sedikit pun terlintas keinginan agar anda dikenal sebagai penulis, pengarang, penyair yang expert, yang nyentuh banyak pembaca?
Satu saja tulisan anda nyentuh banyak pembaca, anda akan dikenang selamanya. Benefitnya ? Tentu saja, apapun yang anda ucapkan atau anda tulis akan dianggap sebagai petuah yang dimakmumi banyak orang.
Iwan fals dikenal karena lagunya banyak yang hits, Ebiet GAD juga dikenal karena banyak lagunya yang hits, Dewa 19, Sapardi Djoko Damono, Goenawan Mohamad, dsb.
Apa yang menarik dari puisi? Menurut saya, saat anda menghapal larik-liriknya. Dan menjadikan lagu adalah cara tercepat membuat kita hapal larik-lirik puisi.
Apakah menulis puisi itu ungkapan hati? Ya, bila ditulis di buku dan disimpan di rak buku. Bila anda menulisnya di medsos tentu berbeda. Itu aktualisasi diri, dan itu berarti anda menginginkan ’emas’.
Menjadi viral itu tidak berdosa. Yang berdosa itu ketika anda menjadi Buto ijo karena keviralan tersebut.
Maka disiplinkan diri dalam menulis. Bukankah sudah tertulis, Man Jadda wajada, Man Sabhara Zhafira.
Anda menyukai puisi yang panjang, pendek atau Sedang-Sedang saja?
Saya tak bermaksud untuk menjebak anda dalam sentimentalis jika saya membicarakan hal ini. Panjang, pendek atau Sedang-Sedang saja bukanlah perdebatan yang herois. Anda bebas memilih yang manapun. Sederhana saja, sekelompok penyair percaya akan keindahan beberapa azas kemudian mengoptimalkan dirinya kepada pilihannya. Sementara yang lain, memilih berbeda.
Membicarakan yang satu mau tidak mau berarti membicarakan yang lain. Saya setiap kali membaca sajak SDD yang panjang, rasa malas selalu menghinggapi saya. Saya menganggap beberapa bait masih bersinggungan dengan judulnya. Selanjutnya, seperti ngelantur. Bicara ngalor-ngidul tidak jelas. Trend menulis buku puisi masih didominasi puisi panjang. Satu buku cuma 4 judul, bisa membayangkan?!
Seseorang bisa menyebut naif dan serba ilusi saat membaca sajak SDD yang berjudul Tuan. Sajak itu terlalu pendek. Suatu kemustahilan penggambaran pikiran dan pengalaman hidup hanya dengan satu kalimat. Saya cenderung mengingkari tiap aksara harus disembah. Adalah suatu fanatisme semata-mata yang memicingkan mata terhadap kemungkinan-kemungkinan yang baik dalam sebuah narasi.
Maka saya cenderung memilih yang sedang-sedang saja. Keindahan ada dalam suasana yang dibentuk. Suasana tersebut adalah proses dialog batin penyairnya. Tidak berlarat-larat ataupun memaksa dengan ‘pendek’. Tapi cukup. Sebab yang ‘sedang-sedang saja’ adalah batas antara jiwa yang merdeka dan ilusi.
Teknologi memungkinkan betapa mudah dan cepatnya mencetak buku. Betapa mudahnya kita mencari asupan-asupan mineral sebelum menulis puisi. Ironisnya, justru kemudahan dan kecepatan tersebut melenakan kita semua.
Kita mudah bosan, mudah bersungut-sungut bila ada sedikit perbedaan, dan jeleknya, kegiatan menulis puisi semakin berkurang. Seringnya malah membuat dikotomi yang tak perlu. Dunia cepat sekali berkembang, canggih, dan tak bisa dilawan. Menulis puisi jangan berhenti.
Dulu menerbitkan buku, biayanya mahal sekali. Kepingin masuk antologi bersama, kudu masuk circle nya dulu sebab untuk lolos harus dikenal dulu. Sekarang, pangkas, pangkas, dan pangkas lagi semua yang tak perlu. Sekarang, tinggal menyisihkan uang bulanan, jadi deh semuanya. Mau bikin sendiri atau ikut antologi bersama, mudah saja.
Dulu menulis puisi susahnya minta ampun, kudu masuk keluar toko buku cari buku puisi untuk menambah asupan mineral sebelum menulis puisi. Untuk tahu trend, bahkan bajakan pun oke-oke saja demi memuaskan nafsu membaca. Sekarang, asupan-asupan itu mudah sekali diperoleh. Tinggal klik, muncul semua menunya.
Bolehlah anda menggunakan AI sebagai tahap awal menulis. Untuk mengembangkan ide dan menulis garis besarnya. Jangan lupa untuk terus menerus beradaptasi dengan teknologi. Jangan sampai kegiatan menulis puisi terganggu hanya karena teknologi semakin canggih. Justru teknologi harus diberdayakan pada tempatnya
Jika yang populer saat ini adalah puisi luka, resah, dan rindu. Ikuti saja arusnya. Anggap saja kita itu Nabi Adam yang dilemparkan dari Surga yang wadidauuu ke dunia penciptaan yang resah, penuh luka dan kerinduan. Beres, kan?!
Toh, jika keresahan semacam itu yang membuat kita produktif maka tak ada kata lain selain, lanjutkan!!!
Ada sesuatu yang tak memuaskan, tentu mungkin. Pada akhirnya Nabi Adam kembali ke Surga, bukan begitu?!
Pada suatu sore, anda melihat di depan rumah anda, anak-anak mengerumuni penjual cilok, lalu lalang motor dengan knalpot Bronx nya yang memekak telinga, bercampur dengan daun-daun kering berserakan di jalan depan rumah. Kotor dan berdebu. Anda merasakan sesuatu, anda merasakan keindahan dari kesemrawutan itu. Maka anda sedang mengalami pengalaman puitis.
Pada suatu sore yang lain. Anda melihat yang rutin di depan rumah anda. Suami pulang dari bekerja sepanjang pagi-siang, latar depan bersih dan asri, tanaman yang anda rawat tiap pagi-sore tumbuh dengan sebaik-baiknya. Burung-burung berkicau, kupu-kupu datang mengerubuti bunga, segala hal sudah tertata baik di tempatnya. Tapi anda tak merasakan sesuatu, anda hanya menganggapnya hal yang rutin yang tak perlu lebay untuk diterjemahkan. Maka anda tidak sedang mengalami pengalaman puitis.
Apapun kejadiannya, kapanpun, baik rutin maupun tidak. Jika anda mampu menterjemahkan hiasan-hiasan verbal tersebut. Maka anda sedang menghidupkan puisi yang terdapat di dalamnya. Ini berarti pembaharuan sikap. Dari realitas kemudian membentuk dialektika. Puisi adalah dialog ke dalam hati dengan segala kemungkinannya.
Namun apakah dengan mengalami pengalaman puitis anda bisa menulis puisi? Tidak. Menulis puisi itu soal ketrampilan. Maka untuk mahir menulis puisi ya menulis. Bukan meribetkan diri di luarnya.
Anda yakin bisa menulis puisi? Buktikan dong. Dengan menulis di Komunitas Sapardian.