
Pada suatu sore, anda melihat di depan rumah anda, anak-anak mengerumuni penjual cilok, lalu lalang motor dengan knalpot Bronx nya yang memekak telinga, bercampur dengan daun-daun kering berserakan di jalan depan rumah. Kotor dan berdebu. Anda merasakan sesuatu, anda merasakan keindahan dari kesemrawutan itu. Maka anda sedang mengalami pengalaman puitis.
Pada suatu sore yang lain. Anda melihat yang rutin di depan rumah anda. Suami pulang dari bekerja sepanjang pagi-siang, latar depan bersih dan asri, tanaman yang anda rawat tiap pagi-sore tumbuh dengan sebaik-baiknya. Burung-burung berkicau, kupu-kupu datang mengerubuti bunga, segala hal sudah tertata baik di tempatnya. Tapi anda tak merasakan sesuatu, anda hanya menganggapnya hal yang rutin yang tak perlu lebay untuk diterjemahkan. Maka anda tidak sedang mengalami pengalaman puitis.
Apapun kejadiannya, kapanpun, baik rutin maupun tidak. Jika anda mampu menterjemahkan hiasan-hiasan verbal tersebut. Maka anda sedang menghidupkan puisi yang terdapat di dalamnya. Ini berarti pembaharuan sikap. Dari realitas kemudian membentuk dialektika.
Puisi adalah dialog ke dalam hati dengan segala kemungkinannya.
Namun apakah dengan mengalami pengalaman puitis anda bisa menulis puisi? Tidak. Menulis puisi itu soal ketrampilan. Maka untuk mahir menulis puisi ya menulis. Bukan meribetkan diri di luarnya.
Anda yakin bisa menulis puisi? Buktikan dong. Dengan menulis di Komunitas Sapardian.