Kategori: kisi-kisi

  • KETIKA KAMU MELUPAKAN AKU, SEBAGIAN DARI SIAPA AKU AKAN HILANG

    Begitulah kekasih anda. Begitu juga puisi.

    Ketika anda menulis puisi, anda berusaha untuk terus mengingat, terus berandai-andai. Jari jemari anda berusaha untuk tetap bergerak. Tapi pikiran dan jemari anda kadang tidak sinkron. Itu hal wajar, sangat wajar.

    Tapi ketika anda tidak menulis puisi dalam jangka waktu yang lama, sebagian dari puisi akan hilang.

    Seberapa kuat anda mengingatnya, seberapa dalam pendekatan anda, anda takkan seluwes dan selentur seperti dulu. Anda tak lagi sama. Begitu juga puisi.

    Apakah anda mengingat apa itu kolokasi?

    Kolokasi ialah secara bersama meletakkan kata dalam satu tempat. Pengertian paling sederhana yakni KATA BERDEKATAN. Dalam satu bait satu kolokasi.

    Bingung? Mari kita praktekkan.

    DOA
    Kita ambil kolokasi gerakan tubuh : tangan, kaki, mata, kepala.

    Kita tambahkan hingga membentuk frasa verba (kata kerja)
    – tangan menengadah, kaki bersila, mata memejam, kepala menunduk.

    Langkah selanjutnya jadikan klausa (subyek predikat)
    – tanganku menengadah – mata ini memejam – kakiku bersila – kepalaku penuh menunduk

    Apakah anda dapat mengikuti apa yang saya maksud? Baiklah kita lanjutkan. Setelah klausa terbentuk maka sempurnakan dengan kalimat sederhana.

    DOA

    Masih kekal tanganku menengadah, di sebuah kamar yang rutin tanpa tercatat.
    di mana mata ini memejam, menertibkan diri.
    dan aku bersandar pada angin, kakiku bersila ke sebuah jam
    yang tak pernah mati
    kepalaku penuh menunduk bukan untuk mengelak dari teka-teki
    Telah sampai kini tubuhku. Aku tahu.

    *Disclaimer : definisi sudah saya sederhanakan. Jika anda cek di kamus, saya yakin anda tambah mumet binti puyeng.


  • Kejadian ini baru saja terjadi di penangkaran Karnataka.

    Ceritanya begini, seekor macan tutul sedang mengejar anjing. Anjing masuk ke toilet melalui jendela. Di belakangnya persis macan tutul juga masuk ke toilet. Pintu toilet terkunci dari luar. Alhasil kedua hewan ini terjebak di toilet.

    Melihat macan tutul, anjing tak berani menggonggong dan mojok di salahsatu sudut toilet. Macan tutul meski lapar, dia tidak menerkam anjing. Dia lebih memilik mojok di sudut yang berlawanan. Keduanya terjebak selama 12 jam di toilet.


    Apa yang terjadi? Menurut Departemen Kehutanan setempat, satwa liar sangat sensitif dengan kebebasan alamiahnya. Segera setelah menyadari kebebasannya diambil (berburu), satwa liar sudah tak memiliki motivasi untuk makan. Satwa liar akan melupakan rasa laparnya.


    Saatnya kita cocoklogi dengan menulis puisi.


    Apakah anda berpikir bila ada tantangan maka anda tidak bebas menulis puisi? Apakah anda merasa Sapardian mengkerdilkan puisi? Apakah anda mengasosiasikan diri sebagai seekor macan tutul yang bila kebebasannya diambil anda akan kehilangan motivasi?


    Bila anda baru masuk komunitas ini, saya mahfum.


    Apakah dengan ada tantangan anda menjadi tidak bebas?

    Tidak juga. Tangan dan jemari anda lincah bergerak. Ia bebas bergerak kemana pun anda inginkan tapi toh tidak pernah tangan dan jemari anda lepas dari pangkalnya, kan?! Apakah anda pernah melihat tangan anda lepas dari tubuh anda, kemudian bergerak-gerak sendiri?


    Menulis puisi adalah ketrampilan. Tantangan menjadikan anda lebih terlatih menulis puisi. Menemukan sudut nulis yang terbaik, menentukan judul yang pas, memberikan sentuhan kalimat pembuka yang manis juga melatih imajinasi anda. Imajinasi kalau tidak dilatih pasti diksinya itu-itu terus. Anda mungkin tidak bosan, tapi pembaca anda yang bosan.


    Apakah Sapardian mengkerdilkan puisi?


    Sapardian ialah metode nulis puisi. Saya yakin, sebelumnya anda belum mengetahui apa itu repetisi, apa itu kolokasi, apa itu sajak suasana. Anda menulis puisi tanpa peduli sedikit teknik menulisnya. Anda galau kemudian menulis puisi. Ya, anda tidak salah. Masalahnya, anda tidak sendirian. Yang galau kemudian menulis puisi itu banyak. Buanyaaak sekaliiiii. Semua penyair juga seperti itu. Lalu apa istimewanya anda?

    Sapardian tidak menjadikan puisi anda kerdil justru sebaliknya menjadikan puisi anda lebih istimewa. Ada nilai tambah dari drama kegalauan anda. ☺️


    Apakah anda seekor macan tutul?


    Justru tantangan seharusnya menjadi motivasi anda sebagai penyair. Tanpa tantangan, anak SD juga bisa nulis puisi. Anda seharusnya bisa lebih.

    Disclaimer : catatan ini ditulis bukan untuk menghina siapapun dan karya manapun 🫰

  • Ini cerita yang populer tapi akan saya ceritakan kembali di sini. Seorang nelayan menyadari laut yang dekat dengan rumahnya sedang tidak produktif. Maka untuk mendapat tangkapan laut yang banyak, dia harus berlayar lebih jauh lagi.


    Tapi jarak yang jauh menjadikan ikan tidak segar saat dibawa ke darat. Konsumen tentu tidak akan suka. Agar tetap segar, sang nelayan menemukan cara yakni membawa balok es batu. Suhu dari balok es batu mampu mengawetkan kesegaran ikan.


    Masalah baru muncul kemudian, konsumen tidak suka dengan ikan yang diawetkan karena rasanya tidak enak. Konsumen tetep lebih memilih ikan segar untuk dikonsumsi.


    Tak kehabisan akal, sang nelayan membuat kolam-kolam kecil di perahunya agar ikan tetap hidup dan segar saat dibawa ke darat.


    Lagi-lagi muncul masalah, jarak yang jauh dan kolam yang kecil menjadikan ikan tidak banyak bergerak dan gampang stres. Tentu saja berefek pada rasa.


    Giliran sang nelayan yang stress. Cara apalagi yang harus dia gunakan agar ikan tetap segar. Apakah anda dapat membantu sang nelayan?

    Saatnya kita cocoklogi dengan menulis puisi.


    Menulis puisi tak sepenuhnya statis. Tahun terus berganti, konsumen puisi anda tak sepenuhnya sama. Jika dulu konsumen puisi anda adalah teman-teman sebaya bisa jadi di tahun ini anda mendapat konsumen yang usianya jauh lebih muda daripada anda. Maka adaptasi dan inovasi itu wajib.


    Adaptasi mengharuskan anda bergerak, memahami tren, mencari modul yang baru, agar konsumen tidak menjauh. Inovasi mengharuskan anda terus berproduksi. Tidak bisa anda menulis sekali kemudian pensiun dini. Sebab menulis puisi tidak mengenal pensiun.


    Anda tidak akan menjadi ahli dan tidak akan pernah puas dengan permainannya. Itulah definisi menulis puisi. SDD pun sempat berkolaborasi dengan penyair yang muda. Terlepas dari disukai apa tidak, tapi beliau sudah melakukannya.


    Menulislah di sini. Mumpung ada tantangan mingguannya. Jadikan semangat. Sebab tanpa tantangan, anak SD juga bisa menulis puisi. Anda seharusnya bisa lebih. ☺️Saya juga nulis kok. Bisa apa tidak, urusan belakang. Yang jadi patokan saya, saat anda menulis 2 puisi maka saya harus menulis tiga puisi. Saat anda menulis 4 puisi maka saya harus lebih jumlahnya. Semoga.


    Oiya, sang nelayan tadi sudah menemukan cara agar ikannya tetap segar. Dia memasukkan anakan ikan hiu ke dalam kolam. Anakan hiu menjadikan ikan bergerak dan tetap segar selama perjalanan ke darat.


    Disclaimer : catatan ini ditulis bukan untuk menghina siapapun dan karya manapun 🫰

  • Tetaplah sendirian, maka ide akan lahir

    TAK ADA YANG PEDULI, TAK ADA YANG BENAR-BENAR PEDULI

    Percaya sama saya, tak seorang pun akan peduli dengan kepahitan frustasi anda. Anda mau berbusa-busa dengan apa yang anda rasa, anda mau jungkir balik dengan puisi anda, ketahuilah bahwa tak ada yang peduli, tak seorang pun yang peduli dengan puisi yang anda tulis.

    Sehebat apapun anda dalam bermain-main kata, takkan ada yang peduli. Paling banter, orang lain akan berkomentar, “wow keren. Mastah. Tingkat dewa puisinya”, atau palingan anda dapat hadiah berupa duit dari giveaway yang anda ikuti.

    Tapi, ketahuilah, tak ada yang benar-benar peduli dengan puisi anda. Hangat-hangat tahi ayam. Uppsss… maaf. Saya tak bermaksud untuk menghina siapapun atau karya manapun. Saya bermaksud mengatakan bahwa kenyataannya seperti itu. Puisi bukan mahluk adigung adigang adiguna. Kenyataannya bahwa puisi tak ubahnya tulisan iklan yang berusaha untuk mendapatkan tempat di kepala pembacanya. Top of mind, bahasa persianya.

    Dapatkah anda mengetahui berapa pembaca yang ingat lirik puisi anda? Bisa jadi, malah anda sendiri yang tidak hapal. Atau setidaknya berapa banyak pembaca anda mengenal karakter puisi anda? Jawaban tersederhananya mungkin, bahwa puisi tidak memberikan efek secara langsung. Seperti iklan, koran, televisi, radio, dsb nya yang tidak sertamerta mengetahui efek secara langsung yang ditimbulkan dari tayangannya.

    Komunikator – pesan – komunikan – media – efek. Ini teori komunikasi ala Laswell. Anda sebagai penyair memberi pesan kepada komunikan (pembaca) melalui puisi (media tulis) yang nantinya menimbulkan efek. Apakah puisi anda menimbulkan efek dahsyat? Nanti dulu… banyak variable yang harus dilewati. Efek hanya bagian akhir komunikasi.

    Anda boleh berbusa-busa mengatakan bahwa puisi anda adalah super, bahwa teori anda kualitasnya spesial. Puisi anda benar-benar martabak. Tapi tetep saja tak ada yang peduli dengan puisi anda, setidaknya saat ini, tak ada yang benar-benar peduli. Yang ada adalah kepedulian kepada anda.

    Tapi anda perlu bersyukur, jika puisi bisa memberi materi buat anda. Anda dapat duit dari giveaway, diundang dengan transport & akomodasi gratis, anda mendapat royalti, dsb. Ada feedback yang baik dari hobi yang anda tekuni saat ini. Setidaknya anda lebih peduli dengan puisi anda sendiri.

  • Media sosial, berita-berita, juga karya sastra tak putus-putusnya menceritakan situasi protes. Menjadikan situasi protes yang mudah ditebak, terlalu sering dipakai, diulang-ulang. Bahasa kerennya terlalu klise. Seakan-akan masalah kehidupan yang dihadapi dari zaman ke zaman tak berkembang. Dari itu ke itu lagi. Monoton.


    Apakah selamanya kita tak bahagia, mungkinkah kita terlalu lapar ataukah terlalu sering mencaci-maki?


    Ada masanya kita berputus asa pada kondisi perang, harga-harga melambung tinggi — inipun sulit ditafsirkan sebab tiap tahun harga naik di sisi lain kehidupan semakin hedon saja– ada masanya juga kita berputus asa pada kondisi bertubi-tubi bencana. Keadaan hari ini, saya kira tidak sekelam itu


    Yang dituju protes itu bisa diterka, kalau bukan kesalahan pemerintah berarti kesalahan seluruh umat manusia selain dirinya. Pendeknya semua salah kecuali dirinya. Klise, bukan tema semacam itu?!


    Di Komunitas Sapardian, saya sebagai admin berusaha keras agar tema-tema itu dikurangi. Bukan anti situasi protes melainkan mengurangi intensitasnya. Sebab di sini, kita bermain-main kata. Tak perlu mengeraskan upaya untuk mengubah dunia. Saya pribadi cenderung beranggapan kepahitan frustasi semacam itu hanya menyentuh permukaan saja.


    Setiap manusia memiliki Buto ijo di dalam dirinya masing-masing. Sisi itulah yang akan disentuh. Bahwa kita hidup dengan berjuta-juta kemungkinan. Kegembiraan, salahsatunya. Agar tidak monoton, tema-tema kegembiraan akan saya hadirkan meski antara tema dan puisi yang dikirim mengandung seribu kemungkinan.

    Untuk menyambung silaturahmi, pinjam dululah seratus 😅

  • If it stays, it is love

    If it ends, it is a love story

    And if it never begin, it is poetry

  • JUDUL SAPARDIAN

    Anda perlu mengoptimalkan puisi anda, salahsatu cara adalah dengan buat judul yang menarik.

    Bagaimana caranya? Judul puisi berbeda dengan judul esai pada umumnya. Judul puisi jauh lebih bebas. Anda bisa memilih yang pendek, anda juga bisa memilih yang panjang.

    Untuk mengetahui judul puisi yang baik, anda perlu membaca tren. Kenapa? Karena tren memberi anda informasi ukuran baik saat ini. Mewakili isi, sudah tentu. Singkat padat dan bikin kenyang, oh ya pasti. Lemper kan?! Hhhhhhh.

    ‘Lemper Ayam’ mewakili lemper isi ayam. Lebih powerfull ketimbang ‘Kumasukkan ayam berharap cinta turun ke hati’.

    Percaya sama saya, dengan membaca tren, judul puisi yang anda buat akan lebih optimal. Buatlah judul yang lebih epic dan ikonik. Epic, menjelaskan sesuatu yang hebat. Ikonik, perlambang puisi anda.

    Pertama-tama, curilah dari penulis sebelumnya. Penulis yang sudah mapan. Improve langkah anda. Masuk lebih elegan dengan membuat judul yang lebih unik. Hindari penulisan Predikat di bagian awal. Hindari sebisa mungkin.

    Di atas judul-judul puisi GM dan SDD. Saya pribadi lebih menyukai judul puisi GM.

  • Kata bertaut dengan ingatan. Bahasa puisi bukan sekadar ornamen. Bukan pula ciri khas ataupun kelainan sang penyair.

    Bahasa adalah sebuah respon dari kebutuhan agar tiap wacana cukup punya ruang, punya rongga, bahwa menulis tentang sedikit banyaknya ingatan. Ketika bergerak dalam tataran ide, bahasa menjadi terang dan komunikatif.

    Maka anda membutuhkan ‘BARU’ untuk menambah pembendaharaan kata.

    Arkais = jadul, tidak lazim, kuno
    Ripuk = patah, rusak, remuk
    Belam = suram, kabur
    Terbelam = menjadi kabur
    Duriat = keturunan
    Jemala = kepala
    Anca = Rintangan
    Ananta = tak terhingga
    Anila = angin
    Merapah = menyiangi, merantau, mengembara
    Klandestin = diam-diam, rahasia, gelap
    Lengkara = mustahil, bedug

    Kata “nggih” berarti ya (Jawa). Mungkin pembaca dari daerah lain belum tahu, tapi jika anda sedikit ‘memaksa’ dengan sering2 memakai kata itu, pembaca juga akan tahu sendiri.

    Jangan berlebihan memakai kata ini. Cukup satu saja yang dirasa jarang dipakai. Dan ulangi terus menerus. Sedikit banyak kata tersebut akan diingat.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai