Mari kita menafsir sajak Seruling milik Sapardi Djoko Damono
Sajak ini termuat dalam buku Perahu Kertas. (Seperti foto di bawah ini)
Sajak ini datar, seperti tak ada klimaks,, tidak punya ending yang menarik, melempem di bagian akhir. Anda setuju?
Ya, kenapa tidak?!
IA MERABA-RABA LUBANG-LUBANGNYA SENDIRI YANG SENANTIASA MENGANGA.
Endingnya cuma meneruskan kisahnya saja, tanpa ada kejutan apa-apa. Tak ada emosi dari penulis yang nampak.
Tunggu dulu, coba perhatikan “LUBANG-LUBANGNYA” kok diulang dua kali. Adakah yang penting?
Seruling adalah alat musik tiup yang memiliki lubang nada. Sepertinya SDD ingin mengatakan sesuatu. Tapi apa? Kenapa seruling? Apa menariknya? Kenapa lubang-lubang ini diulang dua kali? Apakah berarti fokusnya ada pada lubang nada?
Coba kita ganti kata LUBANG dengan kata kesedihan, kehilangan, hampa
Atau kita ganti kata LUBANG dengan kata bahagia Dan bayangkan seruling adalah manusia.
Orang bilang, mengenang masa kecil itu mengasyikkan. Saya kira masa kecil itu sendiri benar-benar mengasyikkan:
kita tinggal dalam dunia yang tersusun dari lambang-lambang dan karenanya sangat kaya makna—meskipun sangat sering tidak tertangkap oleh orang dewasa, bahkan oleh kita sendiri setelah dewasa.
Sajak berikut ini mungkin bisa dipergunakan sebagai contoh untuk menjelaskan kenyataan tersebut.
CATATAN MASA KECIL, 3
Ia turun dari ranjang lalu bersijingkat dan membuka jendela lalu menatap bintang-bintang seraya bertanya-tanya apa gerangan yang di luar semesta dan apa gerangan yang di luar luar-semesta dan terus saja menunggu sebab serasa ada yang akan lewat memberitahukan hal itu padanya dan ia terus bertanya-tanya sampai akhirnya terdengar ayam jantan berkokok tiga kali dan ketika ia menoleh tampak ibunya sudah berdiri di belakangnya berkata “biar kututup jendela ini kau tidurlah saja setelah semalam suntuk terjaga sedang udara malam jahat sekali perangainya.”
Waktu menulis sajak tersebut, keasyikan memilih dan menyusun kata-kata mendadak harus saya hentikan karena dalam kata-kata itu dengan jelas muncul pengalaman di masa kecil,
boleh dikatakan tepat seperti apa yang secara harfiah tergambar dalam sajak tersebut.
Namun, sekarang dalam dunianya yang baru, yang rekaan, segala hal yang rasanya pernah saya alami di masa kecil itu menjelma lambang-lambang.
Sajak itu jelas tentang pengalaman seorang anak kecil yang suka meninggalkan tempat tidurnya untuk memandang ke langit bertanya-tanya kepada dirinya sendiri tentang batas langit itu, dan karena itu ditegur ibunya.
Suatu hal yang sepele, suatu peristiwa kecil. Tetapi mengapa ia tiba-tiba muncul dalam kata-kata yang saya pilih dan susun? Mengapa ia menjelma menjadi himpunan lambang? Apakah karena bergeser kedudukannya dari dunia nyata ke dunia rekaan?
Sesuatu, yang maknanya berhimpit dengan yang tak masuk akal, yang juga terpendam di bawah jerit dan sorak masa kecil, sangat sering hidup kembali dalam puisi saya.
Dalam beberapa sajak yang saya tulis tahun 1971, keinginan saya untuk menyampaikan sesuatu itu tersirat dari judul sajak; namun, sebenarya saya benar-benar mendapatkan keasyikan yang luar biasa ketika menulis catatan-catatan tersebut.
CATATAN MASA KECIL, 2
Ia mengambil jalan lintas dan jarum-jarum rumput berguguran …
Saya sungguh-sungguh asyik bemain kata-kata sehingga tercipta “rahang-rahang laut”, “rahang-rahang bunga”, dan “rahang-rahang langit”, dan kagum menyaksikan “rahang-rahang laut dan rahang-rahang bunga terkam-menerkam”.
Saya senang menyaksikan “angin yang begitu ringan dan bisa meluncur ke mana pun dan bisa menggoda bunga sehabis menggoda laut”.
Dan saya menjadi terkejut ketika “ada yang terpekik di balik semak” ketika saya “menyepak kerikil”.
Saya terlibat sepenuhnya dalam permainan kata itu, sampai pada saat ketika menyadari bahwa rasanya ada sesuatu yang muncul (kembali) dalam dunia rekaan saya itu.
Pada saat semacam itulah saya biasanya berhenti menulis; proses penciptaan pun selesai.
Dalam sajak itu saya membayangkan diri saya berjalan sendiri lewat jalan setapak menuju sungai di bawah “rahang-rahang langit” untuk memenuhi janji dengan beberapa orang.
Sesampai di tepi sungai, “mereka” ternyata tak ada; hari pun hujan, dan serasa ada yang memperhatikan dari seberang sungai, sementara terbayang “mereka” mengepung dan melemparkan saya ke sungai.
Rangkaian peristiwa itu seperti pernah saya alami di masa kecil namun tidak pernah saya sadari sebelumnya sejak itu selesai ditulis.
Oleh karena itu, pengalaman tersebut bukan merupakan sesuatu yang sudah ada atau sudah jadi sebelum sajak itu mulai ditulis;
dengan kata lain, ia bukan merupakan tujuan penulisan sajak tersebut.
Tetapi kenyataan itu tidak membuktikan bahwa penulisan sajak tersebut berawal tanpa maksud apa pun.
Sajak itu merupakan salah satu dari serangkaian sajak yang berjudul “Catatan Masa Kecil”, dan tentunya ditulis dengan semacam niat untuk mengungkapkan pengalaman masa kecil—atau dengan istilah yang saya pakai sebelumnya: yang tak masuk akal.
Beberapa kata yang saya pilih untuk sajak itu seperti “laut”, “langit”, dan “bunga” tentu boleh diterima sebagai lambang;
ini wajar saja, sebab saya, seperti halnya kebanyakan penyair, mempergunakan perbandingan untuk mengetatkan bahasa.
Tetapi dari segi pengalaman yang ada dalam diri saya, kata-kata itu sekaligus juga bermakna sama dengan yang diacunya.
Tentu saja pembaca boleh menafsirkan “langit” dan “sungai” dalam sajak tersebut sebagai lambang-lambang untuk akhirat dan kehidupan,
tetapi bagi saya kata-kata itu sekaligus berarti langit dan sungai benar-benar.
Kemungkinan besar segala hal dalam masa kecil saya diam-diam telah menjelma menjadi lambang-lambang; atau mungkin juga di masa kecil, lambang-lambang telah menjelma dalam hidup sehari-hari sebagai hal-hal yang nyata—dan karena itu tidak masuk akal.
Selamat Siang, Semoga Sapardian bisa menemani hari-hari anda sambil minum teh hangat 🍵🍮
PROSA LIRIS ALA SAPARDI DJOKO DAMONO
Kita masuk lebih dalam. Bila yang kemarin kita masih berkutat pada perasaan yang bergalau-galau, kali ini beda. Kali ini kita mesti lebih tabah menata perangkat puitik, memberi rinci pada sudut pandang. Terus-menerus melakukan pencarian akan kesegaran estetika dalam sapardian.
Sapardian versi 3 adalah prosa liris. Cenderung memakai bahasa naratif seperti cerpen, novel, dsb. Tehnik menulis prosa liris begitu menonjol di semua buku Sapardi Djoko Damono. Maka, selaiknya tehnik menulis prosa liris menjadi keharusan dalam sapardian.
Prosa liris adalah puisi bercerita/ prosa yang ditulis dalam bentuk puisi. Penulisannya tidak rapi seperti empat bait dengan empat baris. Ia bebas menyusun rangkaian citra tanpa dibebani rima, jumlah bait, jumlah larik, jumlah kata, dsb. Bentuknya bisa seperti paragrah novel tapi tidak rapi.
Ala Sapardi Djoko Damono (SDD) adalah memusatkan perhatian pada peristiwanya.
Kita ambil contoh puisi PERAHU KERTAS pada buku beliau yang berjudul sama.
Perahu Kertas
Waktu masih kanak-kanak kau membuat perahu kertas dan kau layarkan di tepi kali; alirnya sangat tenang, dan perahumu bergoyang menuju lautan. “Ia akan singgah di bandar-bandar besar,” kata seorang lelaki tua. Kau sangat gembira, pulang dengan berbagai gambar warna-warni di kepala. Sejak itu kau pun menunggu kalau- kalau ada kabar dari perahu yang tak pernah lepas dari rindu- mu itu. Akhirnya kau dengar juga pesan si tua itu, Nuh, katanya, “Telah kupergunakan perahumu itu dalam sebuah banjir besar dan kini terdampar di sebuah bukit.”
Apa yang bisa kita pelajari; berikut saya sarikan tulisan beliau yang dinukil dari buku: Pamusuk Eneste (editor), Proses Kreatif: Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang Jilid I, (Jakarta: Gramedia), 2009, hlm. 153-170]
1. Menawarkan serangkaian peristiwa kecil
Peristiwa yang terdapat dalam sajak-sajak Anda bukan saja rekaan Anda tetapi PERNAH benar-benar ada. Sebuah contoh PERNAH. Ketika anda berkunjung ke suatu tempat untuk pertama kalinya, anda mendapati diri anda merasa familiar, merasa yakin mengenal tempat tersebut. Padahal anda baru pertama kali datang ke tempat tersebut. Entah itu lewat mimpi atau lewat lain. Yang jelas anda merasa mengenal benar-benar tempat tersebut.
2. Akrab dengan peristiwa
Peristiwa-peristiwa yang anda tulis, yang rasanya pernah anda alami itu mungkin memang pernah anda alami beratus-ratus tahun lalu entah di mana. Oleh karena itu, ada kecenderungan untuk menganggapnya sebagai pengalaman masa kecil, masa yang sudah jauh lampau.
3. MENGUNGKAPKAN sesuatu dan asyik bermain kata-kata sampai ada sesuatu yang TERBENTUK di dalamnya.
Pada saat-saat tertentu, anda ternyata seorang nabi, di saat lain seorang anak kecil. Anda bebas sebagai alat penyebar kebaikan dan bila anda capek, anda bisa berubah menjadi anak kecil yang asyik bermain-main kata tanpa dibebani pesan di dalamnya.
Anda hanya menceritakan segala peristiwa yang PERNAH anda alami di masa kecil, di masa lampau, beberapa ratus tahun yang lalu. Karena peristiwa yang anda tulis sama pentingnya dengan pesan yang terkandung dalam tulisan anda.
4. Memandang diri dan sekeliling dengan mata anak kecil.
Puisi yang anda tulis masuk akal karena berada di dunia kata, dan menjadi tak masuk akal kalau kita berusaha mengembalikannya ke dunia nyata. Contoh : PERAHU KERTAS
Tidak ada teknik khusus dalam menulis SAPARDIAN VERSI 3. Anda bebas menyusunnya sepanjang berpedoman pada empat hal di atas. Sekurang-kurangnya tiga hal paling atas.
Adakalanya mengawali kalimat dengan AGAR, DAN, ADALAH.
Anda bisa berulang-ulang mengawali kalimatnya dengan kata tersebut. Bebas.
Barangkali bisa membantu, ini yang biasa saya lakukan
1. Susunlah sapardian seperti paragrap awal dan akhir novel. Atau seperti fiksimini yang super pendek. Sehabis judul langsung puntiran cerita.
2. Gunakan perumpamaan untuk mengetatkan bahasa AS Laksana pernah menulis sebuah contoh untuk ini.
Perhatikan ______
Tulisan fiksi sangat akrab dengan perumpamaan. Ada perumpamaan yang ditulis dengan upaya sangat keras untuk menjadi unik. Ada perumpamaan yang terasa simpel dan wajar, seolah-olah ditulis tanpa niat untuk mengejutkan pembaca.
Jenis yang bekerja sangat keras kira-kira seperti ini: “Dia datang hari itu dengan penampilan sangat kuyu, seperti musafir yang sudah tujuh hari mengembarai gurun pasir dan tidak menemukan setetes pun air sepanjang perjalanannya yang sengsara.”
Garcia Marquez menggambarkan rombongan wanita tua yang berjalan sangat lesu di bawah cahaya suram dengan perumpamaan yang simpel dan akurat “seperti gambar-gambar dalam mimpi.”
Faulkner membuat perumpamaan tentang bau tubuh perempuan dalam fiksinya “seharum tanaman liar.”
Boris Pasternak menggambarkan tetes darah yang jatuh pada permukaan salju: “merah tua seperti buah ceri.”
Saya akan memilih cara seperti mereka saja, simpel dan tidak bekerja keras: “Dia memandangi saya lekat-lekat, sorot matanya sehangat cahaya sore.”
_______
Semoga mudah dipahami. Slide berikutnya untuk latihannya 💪