Bagian terpenting di sajak Sapardian adalah suasana.
Bagaimana Anda menghidupkan suasana dalam puisi Anda? Berikut tipsnya
Mula-mula bangun ceritanya. Deskripsikan detilnya. Anda bisa menggunakan kata ganti Aku, kamu, dia, mereka, kita, dsb
Yang terakhir, biarkan pembaca menerka makna puisi Anda
Biarkan tafsiran itu bergerak liar
Mulailah menulis dan terus menulis.
Saya yakin Anda bisa. Barangkali Anda menemui kesulitan di bagian awal namun teruslah menulis, gali kemampuan Anda lebih dalam dengan lebih banyak tema. InsyaAllah akan membaik tulisan Anda
Jangan takut tidak ada yang baca, sebab sajak yang baik akan menemukan pembacanya sendiri
Mari memasuki dunia Sapardian lebih dalam. Kali ini kita berbicara tentang bentuk Sajak Sapardian yang baru. Sapardian Tiga bait terzina.
Jadi terdiri 3 bait, tiap baitnya 3 larik. Sajak ini diperkenalkan Hasan Aspahani dengan mengadopsi sajak “HANYA” milik Sapardi Djoko Damono. (lihat gambar di bawah)
____Hanya____
Hanya suara burung yang kaudengar dan tak pernah kaulihat burung itu tapi tahu burung itu ada di sana.
Hanya desir angin yang kaurasa dan tak pernah kaulihat angin itu tapi percaya angin itu di sekitarmu.
Hanya doaku yang bergetar malam ini dan tak pernah kaulihat siapa aku tapi yakin aku ada dalam dirimu.
____Sapardi Djoko Damono_____
Seperti naskah drama yang sering terdiri dari 3 babak yakni Opening, Konflik dan Penyelesaian. Ini jenis pola bercerita, yang dipakai untuk menyusun kontruksi dramatik dalam tiga bagian cerita.
Maka Sapardian Tiga Bait juga mengadopsinya menjadi 3 bagian yakni Citraan pertama, Kedua dan Klimaks. Ya, aturan pertama sajak ini harus terdiri dari tiga bait, yang terakhir adalah repetisi.
Formulanya begini, mula-mula anda membuat citraan pertama (opening) lalu mengulanginya kembali (Repetisi) dengan citraan kedua. Dan memuncak dengan endingnya yang berupa klimaks.
Bait pertama, point of attack (POA) adalah titik di mana cerita itu bergulir, dari sinilah pembaca akan terseret mengikuti alur cerita. Diksinya sebagai perkenalan sekaligus menunjukkan bergulirnya cerita.
Bait kedua, titik cerita berkembang. Ada rasa penasaran, tangga dramatiknya menanjak. Antara bait pertama dan kedua menggunakan diksi yang berdekatan.
Bait ketiga, klimaks. Ending itu bisa berupa perasaan si penulis, bisa berupa kejutan, happy ending, sad ending, dsb.
Keterangan lebih lanjut, hubungi dokter setempat 😄