Kategori: versi DUA

  • Ada istilah learning by doing. Kalo ga doing ya buat apa learning. Sederhana

    Mulailah menulis.

    Mulailah mencari diksi yang berdekatan

    Cari tema dulu, kemudian gali lebih dalam dengan pemilihan diksi

    Lebih dalam lagi dengan diksi yang beranak-pinak, diksi yang masih punya kekerabatan keluarga. Hehehe…

    Jangan lemah…Saya yakin Anda bisa

    Anda subyek sekaligus korban dalam sinetron Sajak yang Anda tulis ☺️

    Cuma Anda pelakunya, jangan cari kambing hitam xixixixi

  • Apa yang Anda rasakan setelah membaca puisi?

    Apakah Anda merasa senang, bahagia, tergugah hati nuraninya, ataupun Anda semakin larut dalam kesedihan?

    Suasana adalah keadaan jiwa setelah kita membaca puisi

    Inilah yang diupayakan penuh oleh seorang penyair dalam setiap puisi

    Gagasan dan pengalaman puitik seorang penyair akan mudah tersampaikan bila suasana terbangun

    Oke. Apakah sekarang Anda memahami apa yang saya sampaikan?

    Lalu bagaimana Anda mendefinisikan suasana?

  • Bedah Sajak

    Perhatikan gambar di atas yang menjadi tolok ukur Sapardian versi dua

    Bait pertama dan kedua memiliki diksi yang berdekatan.

    Diawali dengan kata ‘Hanya’

    Hanya SUARA BURUNG dan hanya DESIR ANGIN

    Kemudian ending adalah Anda. Apa yang menjadi keresahan Anda, apa yang menarik, apa yang ingin Anda sampaikan.

    Semua memakai repetisi.

    Syukur-syukur jika penerapan repetisi itu tiap BAITNYA. Andaipun tidak, cukup repetisi di bait pertama dan kedua saja. Cukup

    Bedah Sajak

    Pedomannya begini, bait pertama dan kedua memakai kolokasi / diksi berdekatan. DESIR ANGIN dan SUARA BURUNG

    Gabungkan keduanya dengan Repetisi yang cantik

  • Bagian terpenting di sajak Sapardian adalah suasana.

    Bagaimana Anda menghidupkan suasana dalam puisi Anda? Berikut tipsnya

    Mula-mula bangun ceritanya. Deskripsikan detilnya. Anda bisa menggunakan kata ganti Aku, kamu, dia, mereka, kita, dsb

    Yang terakhir, biarkan pembaca menerka makna puisi Anda

    Biarkan tafsiran itu bergerak liar

    Mulailah menulis dan terus menulis.

    Saya yakin Anda bisa. Barangkali Anda menemui kesulitan di bagian awal namun teruslah menulis, gali kemampuan Anda lebih dalam dengan lebih banyak tema. InsyaAllah akan membaik tulisan Anda

    Jangan takut tidak ada yang baca, sebab sajak yang baik akan menemukan pembacanya sendiri

  • Kesamaran itu unik. Pengen bilang begini maksudnya begitu

    Tips Nulis Sapardian
  • Sapardian Tiga Bait

    Perhatikan diksi bait pertama dan kedua

    TELAGA DAN PERAHU

    Kedua bait, baik yang pertama dan kedua berbicara tentang keheningan.

    Bait ketiga adalah klimaks.

  • Jika anda memutuskan menulis Sapardian Tiga Bait, pastikan diksi bait pertama dan kedua berdekatan. Seperti contoh pada gambar.

    SUARA BURUNG dan DESIR ANGIN

  • Sapardian Tiga Bait



    Mari memasuki dunia Sapardian lebih dalam. Kali ini kita berbicara tentang bentuk Sajak Sapardian yang baru. Sapardian Tiga bait terzina.

    Jadi terdiri 3 bait, tiap baitnya 3 larik. Sajak ini diperkenalkan Hasan Aspahani dengan mengadopsi sajak “HANYA” milik Sapardi Djoko Damono. (lihat gambar di bawah)



    ____Hanya____

    Hanya suara burung yang kaudengar
    dan tak pernah kaulihat burung itu
    tapi tahu burung itu ada di sana.

    Hanya desir angin yang kaurasa
    dan tak pernah kaulihat angin itu
    tapi percaya angin itu di sekitarmu.

    Hanya doaku yang bergetar malam ini
    dan tak pernah kaulihat siapa aku
    tapi yakin aku ada dalam dirimu.

    ____Sapardi Djoko Damono_____



    Seperti naskah drama yang sering terdiri dari 3 babak yakni Opening, Konflik dan Penyelesaian. Ini jenis pola bercerita, yang dipakai untuk menyusun kontruksi dramatik dalam tiga bagian cerita.



    Maka Sapardian Tiga Bait juga mengadopsinya menjadi 3 bagian yakni Citraan pertama, Kedua dan Klimaks. Ya, aturan pertama sajak ini harus terdiri dari tiga bait, yang terakhir adalah repetisi.



    Formulanya begini, mula-mula anda membuat citraan pertama (opening) lalu mengulanginya kembali (Repetisi) dengan citraan kedua. Dan memuncak dengan endingnya yang berupa klimaks.



    Bait pertama, point of attack (POA) adalah titik di mana cerita itu bergulir, dari sinilah pembaca akan terseret mengikuti alur cerita. Diksinya sebagai perkenalan sekaligus menunjukkan bergulirnya cerita.



    Bait kedua, titik cerita berkembang. Ada rasa penasaran, tangga dramatiknya menanjak. Antara bait pertama dan kedua menggunakan diksi yang berdekatan.



    Bait ketiga, klimaks. Ending itu bisa berupa perasaan si penulis, bisa berupa kejutan, happy ending, sad ending, dsb.



    Keterangan lebih lanjut, hubungi dokter setempat 😄



    #Sapardian_Tiga_Bait

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai