AYAT SAPARDIAN
A
ada yang tak lapuk dimakan usia
aku membayangkanmu lewat cinta yang sederhana
ada madu dan racun yang terus berulang
Akan selalu ada alasan untuk disimpan
ada aku yang tak segan menunggu dan mengetukmu selalu
ada sejumlah arti dari rona matahari pagi dan tak pernah kaupeduli matahari sekalipun
ada sejumlah kuntum bunga yang tersenyum dan tak pernah kaulihat bunga sekalipun
Alis matanya yang perak, rambut kemarau dan musim depan.
Astaga, bermimpi saja aku dari bunga lukisan dinding
Anak ingin menangkap gelombang, tapi tak tahu di mana suaranya terpendam
aku meleleh ketika kau nyalakan lilin
aku menulis diammu
Aku ingin mengenalmu dengan lebih banyak waktu
adzan mahgrib menuntunku ke jalan yang berbeda
aur berbisik ke sungai, ke sejuk batu-batu
alam semestanya menyala dan asapnya membumbung ke angkasa
Aku akan terbangun oleh ingar burung-burung mengikutimu, Mu
ada yang bermadah jauh ke dalam dada
Ada yang masih bernyanyi di pagi hari,
Adakah yang abadi? Sementara kita pelan-pelan menenggelamkan diri
Aku pemeluk yang takluk, besi telah sampai di kaki
Ada hujan meracau sepanjang malam
Ada hujan gelisah sepanjang siang
Aku suka mengangkut hujan untuk pulang
aku adalah angin yang berhembus,
aku tak sepenuhnya tertembus,
Aku bayangkan daun-daun yang lepas,
Aku adalah abu dalam apimu, air mata yang jatuh dari matamu.
Aku menyusuri tiap lekuknya,
Aku bercakap-cakap dengan pasrah
Aku hanyut kembali oleh hentakan gelombang
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Aku suka menyimak hujan.
Aku cemaskan debu yang menempel di sudut matamu
Aku bayangkan Tri Sandhya rutin tentang angin dan terseret di pusarannya