Adaptasi dan Inovasi

Ini cerita yang populer tapi akan saya ceritakan kembali di sini. Seorang nelayan menyadari laut yang dekat dengan rumahnya sedang tidak produktif. Maka untuk mendapat tangkapan laut yang banyak, dia harus berlayar lebih jauh lagi.


Tapi jarak yang jauh menjadikan ikan tidak segar saat dibawa ke darat. Konsumen tentu tidak akan suka. Agar tetap segar, sang nelayan menemukan cara yakni membawa balok es batu. Suhu dari balok es batu mampu mengawetkan kesegaran ikan.


Masalah baru muncul kemudian, konsumen tidak suka dengan ikan yang diawetkan karena rasanya tidak enak. Konsumen tetep lebih memilih ikan segar untuk dikonsumsi.


Tak kehabisan akal, sang nelayan membuat kolam-kolam kecil di perahunya agar ikan tetap hidup dan segar saat dibawa ke darat.


Lagi-lagi muncul masalah, jarak yang jauh dan kolam yang kecil menjadikan ikan tidak banyak bergerak dan gampang stres. Tentu saja berefek pada rasa.


Giliran sang nelayan yang stress. Cara apalagi yang harus dia gunakan agar ikan tetap segar. Apakah anda dapat membantu sang nelayan?

Saatnya kita cocoklogi dengan menulis puisi.


Menulis puisi tak sepenuhnya statis. Tahun terus berganti, konsumen puisi anda tak sepenuhnya sama. Jika dulu konsumen puisi anda adalah teman-teman sebaya bisa jadi di tahun ini anda mendapat konsumen yang usianya jauh lebih muda daripada anda. Maka adaptasi dan inovasi itu wajib.


Adaptasi mengharuskan anda bergerak, memahami tren, mencari modul yang baru, agar konsumen tidak menjauh. Inovasi mengharuskan anda terus berproduksi. Tidak bisa anda menulis sekali kemudian pensiun dini. Sebab menulis puisi tidak mengenal pensiun.


Anda tidak akan menjadi ahli dan tidak akan pernah puas dengan permainannya. Itulah definisi menulis puisi. SDD pun sempat berkolaborasi dengan penyair yang muda. Terlepas dari disukai apa tidak, tapi beliau sudah melakukannya.


Menulislah di sini. Mumpung ada tantangan mingguannya. Jadikan semangat. Sebab tanpa tantangan, anak SD juga bisa menulis puisi. Anda seharusnya bisa lebih. ☺️Saya juga nulis kok. Bisa apa tidak, urusan belakang. Yang jadi patokan saya, saat anda menulis 2 puisi maka saya harus menulis tiga puisi. Saat anda menulis 4 puisi maka saya harus lebih jumlahnya. Semoga.


Oiya, sang nelayan tadi sudah menemukan cara agar ikannya tetap segar. Dia memasukkan anakan ikan hiu ke dalam kolam. Anakan hiu menjadikan ikan bergerak dan tetap segar selama perjalanan ke darat.


Disclaimer : catatan ini ditulis bukan untuk menghina siapapun dan karya manapun 🫰

Posted on

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai