
Media sosial, berita-berita, juga karya sastra tak putus-putusnya menceritakan situasi protes. Menjadikan situasi protes yang mudah ditebak, terlalu sering dipakai, diulang-ulang. Bahasa kerennya terlalu klise. Seakan-akan masalah kehidupan yang dihadapi dari zaman ke zaman tak berkembang. Dari itu ke itu lagi. Monoton.
Apakah selamanya kita tak bahagia, mungkinkah kita terlalu lapar ataukah terlalu sering mencaci-maki?
Ada masanya kita berputus asa pada kondisi perang, harga-harga melambung tinggi — inipun sulit ditafsirkan sebab tiap tahun harga naik di sisi lain kehidupan semakin hedon saja– ada masanya juga kita berputus asa pada kondisi bertubi-tubi bencana. Keadaan hari ini, saya kira tidak sekelam itu
Yang dituju protes itu bisa diterka, kalau bukan kesalahan pemerintah berarti kesalahan seluruh umat manusia selain dirinya. Pendeknya semua salah kecuali dirinya. Klise, bukan tema semacam itu?!
Di Komunitas Sapardian, saya sebagai admin berusaha keras agar tema-tema itu dikurangi. Bukan anti situasi protes melainkan mengurangi intensitasnya. Sebab di sini, kita bermain-main kata. Tak perlu mengeraskan upaya untuk mengubah dunia. Saya pribadi cenderung beranggapan kepahitan frustasi semacam itu hanya menyentuh permukaan saja.
Setiap manusia memiliki Buto ijo di dalam dirinya masing-masing. Sisi itulah yang akan disentuh. Bahwa kita hidup dengan berjuta-juta kemungkinan. Kegembiraan, salahsatunya. Agar tidak monoton, tema-tema kegembiraan akan saya hadirkan meski antara tema dan puisi yang dikirim mengandung seribu kemungkinan.
Untuk menyambung silaturahmi, pinjam dululah seratus 😅