
Kata bertaut dengan ingatan. Bahasa puisi bukan sekadar ornamen. Bukan pula ciri khas ataupun kelainan sang penyair.
Bahasa adalah sebuah respon dari kebutuhan agar tiap wacana cukup punya ruang, punya rongga, bahwa menulis tentang sedikit banyaknya ingatan. Ketika bergerak dalam tataran ide, bahasa menjadi terang dan komunikatif.
Maka anda membutuhkan ‘BARU’ untuk menambah pembendaharaan kata.
Arkais = jadul, tidak lazim, kuno
Ripuk = patah, rusak, remuk
Belam = suram, kabur
Terbelam = menjadi kabur
Duriat = keturunan
Jemala = kepala
Anca = Rintangan
Ananta = tak terhingga
Anila = angin
Merapah = menyiangi, merantau, mengembara
Klandestin = diam-diam, rahasia, gelap
Lengkara = mustahil, bedug
Kata “nggih” berarti ya (Jawa). Mungkin pembaca dari daerah lain belum tahu, tapi jika anda sedikit ‘memaksa’ dengan sering2 memakai kata itu, pembaca juga akan tahu sendiri.
Jangan berlebihan memakai kata ini. Cukup satu saja yang dirasa jarang dipakai. Dan ulangi terus menerus. Sedikit banyak kata tersebut akan diingat.