
AKU HANYA SISIPAN DI ANTARA DERETAN OBYEK
Ada perbedaan yang mencolok dari teknik penulisan Sapardian dan puisi diafan. Perbedaan itu terletak pada ‘Aku’. Jika pada puisi diafan, ‘Aku’ sebagai penegasan. Aku sedang makan, aku sedang buang hajat, aku sedang teriak-teriak, aku keluarkan uneg-uneg, semua isi kepala.
Pada Sapardian ‘Aku’ selalu mengisyaratkan hilangnya sang penyair sebagai pembicara. Aku seakan-akan larut dengan deretan obyek. Aku di antara angin, hujan, awan, kayu, api, dsb. Aku sebagai bayang-bayang, aku sebagai kehadiran yang bukan kehadiran lahir. Sebagai bayang-bayang, aku bisa menjadi metafor perlawanan terutama terhadap penampakan. Bayang-bayang menginterupsi keharusan untuk terang ketika terang berarti pengawasan. Aku menandai tak lengkapnya cahaya dan kegelapan.
Aku pada Sapardian adalah sajak nada rendah. Puisinya seolah-olah dicatat dari gumam. Ia ditulis oleh orang yang tak memberi aksentuasi pada gerak, pada suara keras, atau kesibukan di luar dirinya. Ia justru suatu perlawanan terhadap gerak, suara keras, serta kesibukan di luar. Aku pada Sapardian memilih diam, dan memenangkan diam.
Sesungguhnya pilihan kepada diam ini adalah tema dasar dari pikiran-pikiran Sapardian, dari ide-idenya.