
Anda menyukai puisi yang panjang, pendek atau Sedang-Sedang saja?
Saya tak bermaksud untuk menjebak anda dalam sentimentalis jika saya membicarakan hal ini. Panjang, pendek atau Sedang-Sedang saja bukanlah perdebatan yang herois. Anda bebas memilih yang manapun. Sederhana saja, sekelompok penyair percaya akan keindahan beberapa azas kemudian mengoptimalkan dirinya kepada pilihannya. Sementara yang lain, memilih berbeda.
Membicarakan yang satu mau tidak mau berarti membicarakan yang lain. Saya setiap kali membaca sajak SDD yang panjang, rasa malas selalu menghinggapi saya. Saya menganggap beberapa bait masih bersinggungan dengan judulnya. Selanjutnya, seperti ngelantur. Bicara ngalor-ngidul tidak jelas. Trend menulis buku puisi masih didominasi puisi panjang. Satu buku cuma 4 judul, bisa membayangkan?!
Seseorang bisa menyebut naif dan serba ilusi saat membaca sajak SDD yang berjudul Tuan. Sajak itu terlalu pendek. Suatu kemustahilan penggambaran pikiran dan pengalaman hidup hanya dengan satu kalimat. Saya cenderung mengingkari tiap aksara harus disembah. Adalah suatu fanatisme semata-mata yang memicingkan mata terhadap kemungkinan-kemungkinan yang baik dalam sebuah narasi.
Maka saya cenderung memilih yang sedang-sedang saja. Keindahan ada dalam suasana yang dibentuk. Suasana tersebut adalah proses dialog batin penyairnya. Tidak berlarat-larat ataupun memaksa dengan ‘pendek’. Tapi cukup. Sebab yang ‘sedang-sedang saja’ adalah batas antara jiwa yang merdeka dan ilusi.