
Teknologi memungkinkan betapa mudah dan cepatnya mencetak buku. Betapa mudahnya kita mencari asupan-asupan mineral sebelum menulis puisi. Ironisnya, justru kemudahan dan kecepatan tersebut melenakan kita semua.
Kita mudah bosan, mudah bersungut-sungut bila ada sedikit perbedaan, dan jeleknya, kegiatan menulis puisi semakin berkurang. Seringnya malah membuat dikotomi yang tak perlu. Dunia cepat sekali berkembang, canggih, dan tak bisa dilawan. Menulis puisi jangan berhenti.
Dulu menerbitkan buku, biayanya mahal sekali. Kepingin masuk antologi bersama, kudu masuk circle nya dulu sebab untuk lolos harus dikenal dulu. Sekarang, pangkas, pangkas, dan pangkas lagi semua yang tak perlu. Sekarang, tinggal menyisihkan uang bulanan, jadi deh semuanya. Mau bikin sendiri atau ikut antologi bersama, mudah saja.
Dulu menulis puisi susahnya minta ampun, kudu masuk keluar toko buku cari buku puisi untuk menambah asupan mineral sebelum menulis puisi. Untuk tahu trend, bahkan bajakan pun oke-oke saja demi memuaskan nafsu membaca. Sekarang, asupan-asupan itu mudah sekali diperoleh. Tinggal klik, muncul semua menunya.
Bolehlah anda menggunakan AI sebagai tahap awal menulis. Untuk mengembangkan ide dan menulis garis besarnya. Jangan lupa untuk terus menerus beradaptasi dengan teknologi. Jangan sampai kegiatan menulis puisi terganggu hanya karena teknologi semakin canggih. Justru teknologi harus diberdayakan pada tempatnya
Jika yang populer saat ini adalah puisi luka, resah, dan rindu. Ikuti saja arusnya. Anggap saja kita itu Nabi Adam yang dilemparkan dari Surga yang wadidauuu ke dunia penciptaan yang resah, penuh luka dan kerinduan. Beres, kan?!
Toh, jika keresahan semacam itu yang membuat kita produktif maka tak ada kata lain selain, lanjutkan!!!
Ada sesuatu yang tak memuaskan, tentu mungkin. Pada akhirnya Nabi Adam kembali ke Surga, bukan begitu?!
Iya nunggu kiamat dulu ☺️hhhhhhhh