
Tak ada puisi tanpa realitas. Tak ada puisi yang tidak bertolak dari sana. Tapi puisi bukan replika kasar dari dunia tak beraturan.
Ada proses dialektika, dimasak dulu kemudian disajikan dengan toping yang wuistimewa.
Jika seseorang pernah mengatakan bahwa keindahan itu ya kenyataan dan bukanlah keindahan yang diciptakan oleh seni. Seakan-akan proses penciptaan puisi cuma sekadar replika biasa.
Coba anda mendengarkan suara ayam yang sedang makan, cerewetnya naudzubillah. Bandingkan dengan lagu DEWA 19, lagu Noah, Rossa, dsb. Tidak sama bukan?!
Yang satu beraturan, yang lain tak keruan.
Tapi mengatakan puisi lebih indah dari realitas juga salah. Ini seolah-olah menganggap keindahan baru bisa dirasakan setelah terciptanya suatu puisi.
Puisi dan realitas, sama-sama mengejar suatu nilai — Keindahan, kehidupan, sebut saja begitu — meski tak pernah bisa secara absolut mencapainya.