
Tak selalu berupa kesimpulan. Lebih sering menggantung, berhenti di tengah-tengah agar pembaca menebak dan memilih akhir sajaknya.
Ending SDD seperti tak ingin menyetir pembaca. Terkadang tak sempurna, meski ia selalu ingin demikian. Sajak-sajak yang ditulisnya memungkinkan percakapan yang bebas. Ini yang sering kita dengar bahwa puisi menyediakan ruang dialog.
Puisi bukan slogan yang menghendaki tindakan-tindakan praktis saat itu juga. Anda bebas bercakap-cakap dengan pembaca, begitu juga sebaliknya, pembaca bebas memaknai puisi anda.
Saat melihat matahari terbenam, masing-masing orang memiliki pengalaman sendiri, yang tak sepenuhnya bisa dikomunikasikan secara persis dalam satu sajak.
Saya kira begitulah ending SDD yang saya ketahui.