ENDING SAPARDI DJOKO DAMONO

Tak selalu berupa kesimpulan. Lebih sering menggantung, berhenti di tengah-tengah agar pembaca menebak dan memilih akhir sajaknya.


Ending SDD seperti tak ingin menyetir pembaca. Terkadang tak sempurna, meski ia selalu ingin demikian. Sajak-sajak yang ditulisnya memungkinkan percakapan yang bebas. Ini yang sering kita dengar bahwa puisi menyediakan ruang dialog.

Puisi bukan slogan yang menghendaki tindakan-tindakan praktis saat itu juga. Anda bebas bercakap-cakap dengan pembaca, begitu juga sebaliknya, pembaca bebas memaknai puisi anda.


Saat melihat matahari terbenam, masing-masing orang memiliki pengalaman sendiri, yang tak sepenuhnya bisa dikomunikasikan secara persis dalam satu sajak.

Saya kira begitulah ending SDD yang saya ketahui.

Posted on

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai