
Robot Puisi, 2
Seperti halnya uang. Ia baik – sangat baik malah – untuk orang yang membutuhkan. Tapi di tangan orang yang tidak baik, ia sangat jahat.
Selama Anda tidak memberinya kecerdasan ( clue ), maka ia tetap saja begitu. Semula ia masih netek, belum bisa jalan. Lalu ia mulai bisa merangkak, berjalan, dan lari. Ya lari. Dan larinya sudah semakin cepat meninggalkan Anda yang memberinya kecerdasan.
Ia bisa menjadi teman yang baik buat Anda. Ia bisa juga menjadi teman yang buruk
Dunia semakin berkembang. Apapun bisa didomestifikasi. Yang dulunya liar dan antah berantah kini bisa mendekat dan kita peluk. Suka atau tidak, AI sudah menjadi alat puisi era ini.
Menurut Anda, apakah perlu Komunitas Sapardian masuk lebih dalam ke robot puisi? Menulis puisi yang dihasilkan dari artificial Intelligence? Anda cuma mengetik clue nya saja?
Mau coba?