Menyiasati Tema dalam Menulis Puisi

By Andreas Guendeng Widjaja


Menyiasati Tema Dalam Menulis Puisi



Puisi sering kali disebut sebagai bahasa rasa/bahasa jiwa, oleh sebab itu dalam menulis puisi lebih disarankan untuk merenung ke dalam terlebih dahulu ketimbang sekadar merefleksikan apa yang tertangkap di luar.

Hal ini juga berlaku sebagai salah satu cara untuk menyiasati tema yang disuguhkan.

Dalam menginterpretasikan sebuah tema dalam puisi, ada baiknya kita melihat tema tersebut sebagai pemandu/benang merah dari apa yang ingin kita tulis. Ini bisa membantu kita agar tak terjebak dalam tema itu sendiri.

Meluaskan ide dan membebaskan imajinasi lalu menariknya ke dalam benang merah sebuah tema akan memudahkan kita dalam menulis.

Semakin luas kita melihat sebuah tema, maka semakin luas juga jangkauan puisi kita.
Semakin bebas kita berimajinasi, maka semakin cair pula tulisan kita.

Di sini saya mencoba berbagi sudut pandang dalam menyiasati sebuah tema dalam puisi. Bagi saya pribadi, tema adalah gambaran besar maka saya perlu mencari detaildetail kecil yang menarik, baik itu variabel yang terkait atau rasa yang membentuk tema tersebut.

Setelah menemukan hal yang menarik tersebut, maka saya akan menarik seluasluasnya hal tersebut dan membebas-liarkannya sejauh mungkin dari ranahnya.

Hal ini memberikan saya banyak perspektif dan point of view ketika saya mengeksekusinya.

Agar lebih jelas, saya akan mencontohkannya sedikit:
Misal dalam tema 3 yang sedang kita garap minggu ini, yaitu: restoran

Bila mendengar kata restoran, hal pertama yang terlintas adalah tempat makan dan makanan.

Dari 2 hal ini bisa kita perluas semisal:
Tempat makan apa?
Apakah tempat makan secara fisik/jasmani atau rohani?
Bisa juga makanan apa?
Siapa yang makan?
Mengapa mereka makan?
Siapa yang meracik makanan?
Mengapa diracik seperti itu?
Dst, dst, …

Mari kita ambil 1 dan kita perluas lagi
Misal kita pilih “Siapa yang meracik makanan?”
Jawabannya tentu saja koki, maka perluasannya sbb:
Dia koki yang seperti apa?
Makanan seperti apa yang dia racik?
Apa tujuannya meracik makanan tsb?

Atau bisa juga kita mengadaptasi koki kepada hal-hal lain yang berhubungan dengan racik meracik, semisal:

Kita adalah koki untuk diri kita sendiri dan makanan apa yang akan kita racik dan suguhkan?
Atau Tuhan adalah koki atas alam semesta dan bagaimana kita menikmati dan menilai racikannya?
Dst, dst, …

Jika kita belum puas, maka bisa kita perluas lagi. Intinya semakin kita merenung ke dalam maka akan semakin banyak pilihan yang kita temukan karena jangkauannya semakin luas dan bebas.

Sebagai penutup, saya ingin menyampaikan bahwa tulisan ini adalah pandangan saya secara pribadi yang tentu saja sifatnya tidak baku.

Dan karena ketidakbakuannya tersebut, maka tulisan ini dimaksudkan sebagai bahan diskusi tanpa bermaksud menggurui.

Semoga tulisan ini bisa membawa manfaat bagi kita semua dalam mengembangkan diri di dunia hobby tulis menulis, terkhusus puisi.

Jika dirasa kurang bermanfaat dan atau bahkan omong kosong belaka; saya mohon maaf yang sebesarbesarnya

Terima Kasih🙏🙏🙏

Posted on

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai