
MEMAHAMI LEBIH BANYAK BAGAIMANA SAPARDIAN BEKERJA, 1
Kita memasuki Sapardian lebih dalam dan memahami lebih banyak bagaimana Sapardian bekerja. Kita bisa memulainya dengan KOLOKASI.
Mari kita melihatnya dalam puisi SEPERTI KABUT yang terdapat dalam buku KOLAM.
Sapardi Djoko Damono
SEPERTI KABUT
aku akan menyayangimu
seperti kabut
yang raib di cahaya matahari
:
aku akan menjelma awan
hati-hati mendaki bukit
agar bisa menghujanimu
:
pada suatu hari baik nanti
Hanya dua kalimat saja dengan tipografi yang disengaja.
Terdapat kolokasi
bagian 1 : Kabut – Cahaya Matahari
bagian 2 : Awan – Hujan
Mula-mula mempunyai sifat kabut. Kabut akan menguap karena suhu panas dari sinar matahari. Sifat-sifat ini memberi logika pada tulisan kita. Tidak mungkin sinar matahari kalah dengan kabut. Maka untuk memulai kalimat aktif tentu diawali dengan kabut, bukan sebaliknya.
Begitu juga dengan awan dan hujan pada bagian dua. Gerakan awan sebelum sempurna menjadi awan mendung tebal digambarkan di sini. Bagi Saya, sangat tidak menarik bila kita mengawali puisi kita dengan hujan.
Jika ditarik lebih singkat, barangkali begini;
Aku akan menyayangimu pada suatu hari baik nanti
Nah, giliran Anda yang menulis. Jika Anda memilih kolokasi sebagai jalan, tentukan dulu kolokasi baru kemudian menyusun kata demi kata.