Naratif, Toping Apaan Tuh?

Naratif, Toping Kek Gimana Itu?



Seorang Tetty Kadi, dalam lagu LAYU SEBELUM BERKEMBANG, menulis liriknya seperti ini.
“Hatiku hancur mengenang dikau, berkeping-keping jadinya… “



Seorang Ahmad Dhani, dalam lagu AKU CINTA KAU DAN DIA, akan mengulik liriknya seperti ini.
“Hancur hatiku mengenang dikau, menjadi keping-keping setelah kau pergi… “



Seorang Kahlil Gibran, dalam AKU BICARA PERIHAL CINTA, menulisnya begini.



“Apabila cinta memberi isyarat kepadamu, ikutilah dia, walau jalannya sukar dan curam. Dan pabila sayapnva memelukmu menyerahlah kepadanya
Walau pedang tersembunyi di antara ujung-ujung sayapnya bisa melukaimu. Dan kalau dia bicara padamu percayalah padanya.



Seorang Ahmad Dhani, dalam lagu CINTA ADALAH MISTERI, mengulik liriknya begini.



“Bila cinta memanggilmu, kau ikuti kemana ia pergi, walau jalan terjal berliku, walau perih s’lalu menunggu
Jika sayapnya merangkulmu, dan pisau tajam siap melukai… “

Saya berbicara tentang RENCANA. Tentang mengoptimalkan kemasan, baik Tetty Kadi, Kahlil Gibran maupun Ahmad Dhani memiliki corak warna tulisan. Tidak serta merta kembar plek ketiplek.

Seperti bikin kue Bolu. Saya yakin anda sudah menentukan toping kue bolu tersebut sebelum membikin rotinya terlebih dahulu.

Bahkan sebelum membeli bahan-bahan. Di benak anda sudah ada rencana-rencana kecil. Anda sudah tahu bakalan seperti apa kue bolu tersebut. Baik rasa, bentuknya, cara bikinnya, dsb.

Nah, begitu juga dengan mengemas sajak sapardian.

Jangan pernah menulis sajak sapardian secara spontan, jangan pernah! Saya tegaskan sekali lagi, jangan pernah bikin sajak sapardian tanpa tahu jadinya seperti apa nanti.


Sebelum menulis sajak sapardian, miliki rencana dengan baik. Nanti pakai bahan apa, masaknya bagaimana, takarannya seberapa, topingnya pakai apa.



Alasannya apa? Agar tulisan anda tidak bantet.



Prosa liris itu Naratif. Naratif itu adalah cerita.



Menulislah seperti anda sedang bercerita kepada seseorang. Yang ahli ghibah pasti mudah memahami prosa liris hahahaha. Bukan tanpa sebab, ahli ghibah tahu betul bagaimana mengawali gosip. Lalu menggiring gosipnya sesuai yang dia mau.



Begitu juga penulis sapardian. Harus tahu betul mengawali tulisannya. Lalu menggiring cerita seperti maunya. Tentu saja, tidak bisa spontan. Anda harus sering-sering baca buku-buku puisi naratif. Agar anda bisa mengemas sapardian anda dengan baik.



Satu lagi, anda bertanggung jawab terhadap bahasa Indonesia. Jika nanti kamus bahasa Indonesia semakin tipis, karena anda jarang memakainya, apa kata dunia?



Semoga berkenan

Posted on

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai