CATATAN SAPARDI DJOKO DAMONO BAG 2

Orang bilang, mengenang masa kecil itu mengasyikkan. Saya kira masa kecil itu sendiri benar-benar mengasyikkan:

kita tinggal dalam dunia yang tersusun dari lambang-lambang dan karenanya sangat kaya makna—meskipun sangat sering tidak tertangkap oleh orang dewasa, bahkan oleh kita sendiri setelah dewasa.



Sajak berikut ini mungkin bisa dipergunakan sebagai contoh untuk menjelaskan kenyataan tersebut.



CATATAN MASA KECIL, 3

Ia turun dari ranjang lalu bersijingkat dan membuka jendela lalu menatap bintang-bintang seraya bertanya-tanya apa gerangan yang di luar semesta dan apa gerangan yang di luar luar-semesta dan terus saja menunggu sebab serasa ada yang akan lewat memberitahukan hal itu padanya dan ia terus bertanya-tanya sampai akhirnya terdengar ayam jantan berkokok tiga kali dan ketika ia menoleh tampak ibunya sudah berdiri di belakangnya berkata “biar kututup jendela ini kau tidurlah saja setelah semalam suntuk terjaga sedang udara malam jahat sekali perangainya.”



Waktu menulis sajak tersebut, keasyikan memilih dan menyusun kata-kata mendadak harus saya hentikan karena dalam kata-kata itu dengan jelas muncul pengalaman di masa kecil,

boleh dikatakan tepat seperti apa yang secara harfiah tergambar dalam sajak tersebut.

Namun, sekarang dalam dunianya yang baru, yang rekaan, segala hal yang rasanya pernah saya alami di masa kecil itu menjelma lambang-lambang.

Sajak itu jelas tentang pengalaman seorang anak kecil yang suka meninggalkan tempat tidurnya untuk memandang ke langit bertanya-tanya kepada dirinya sendiri tentang batas langit itu, dan karena itu ditegur ibunya.

Suatu hal yang sepele, suatu peristiwa kecil. Tetapi mengapa ia tiba-tiba muncul dalam kata-kata yang saya pilih dan susun? Mengapa ia menjelma menjadi himpunan lambang? Apakah karena bergeser kedudukannya dari dunia nyata ke dunia rekaan?

(Sapardi Djoko Damono)

Posted on

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai