Sapardian Versi Tiga – Prosa Liris

Selamat Siang,
Semoga Sapardian bisa menemani hari-hari anda sambil minum teh hangat
🍵🍮



PROSA LIRIS ALA SAPARDI DJOKO DAMONO



Kita masuk lebih dalam. Bila yang kemarin kita masih berkutat pada perasaan yang bergalau-galau, kali ini beda. Kali ini kita mesti lebih tabah menata perangkat puitik, memberi rinci pada sudut pandang. Terus-menerus melakukan pencarian akan kesegaran estetika dalam sapardian.



Sapardian versi 3 adalah prosa liris. Cenderung memakai bahasa naratif seperti cerpen, novel, dsb. Tehnik menulis prosa liris begitu menonjol di semua buku Sapardi Djoko Damono. Maka, selaiknya tehnik menulis prosa liris menjadi keharusan dalam sapardian.



Prosa liris adalah puisi bercerita/ prosa yang ditulis dalam bentuk puisi. Penulisannya tidak rapi seperti empat bait dengan empat baris. Ia bebas menyusun rangkaian citra tanpa dibebani rima, jumlah bait, jumlah larik, jumlah kata, dsb. Bentuknya bisa seperti paragrah novel tapi tidak rapi.



Ala Sapardi Djoko Damono (SDD) adalah memusatkan perhatian pada peristiwanya.



Kita ambil contoh puisi PERAHU KERTAS pada buku beliau yang berjudul sama.



Perahu Kertas

Waktu masih kanak-kanak kau membuat perahu kertas dan kau
layarkan di tepi kali; alirnya sangat tenang, dan perahumu
bergoyang menuju lautan.
“Ia akan singgah di bandar-bandar besar,” kata seorang lelaki
tua. Kau sangat gembira, pulang dengan berbagai gambar
warna-warni di kepala. Sejak itu kau pun menunggu kalau-
kalau ada kabar dari perahu yang tak pernah lepas dari rindu-
mu itu.
Akhirnya kau dengar juga pesan si tua itu, Nuh, katanya,
“Telah kupergunakan perahumu itu dalam sebuah banjir besar
dan kini terdampar di sebuah bukit.”


Apa yang bisa kita pelajari; berikut saya sarikan tulisan beliau yang dinukil dari buku: Pamusuk Eneste (editor), Proses Kreatif: Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang Jilid I, (Jakarta: Gramedia), 2009, hlm. 153-170]



1. Menawarkan serangkaian peristiwa kecil



Peristiwa yang terdapat dalam sajak-sajak Anda bukan saja rekaan Anda tetapi PERNAH benar-benar ada. Sebuah contoh PERNAH. Ketika anda berkunjung ke suatu tempat untuk pertama kalinya, anda mendapati diri anda merasa familiar, merasa yakin mengenal tempat tersebut. Padahal anda baru pertama kali datang ke tempat tersebut. Entah itu lewat mimpi atau lewat lain. Yang jelas anda merasa mengenal benar-benar tempat tersebut.



2. Akrab dengan peristiwa



Peristiwa-peristiwa yang anda tulis, yang rasanya pernah anda alami itu mungkin memang pernah anda alami beratus-ratus tahun lalu entah di mana. Oleh karena itu, ada kecenderungan untuk menganggapnya sebagai pengalaman masa kecil, masa yang sudah jauh lampau.



3. MENGUNGKAPKAN sesuatu dan asyik bermain kata-kata sampai ada sesuatu yang TERBENTUK di dalamnya.



Pada saat-saat tertentu, anda ternyata seorang nabi, di saat lain seorang anak kecil. Anda bebas sebagai alat penyebar kebaikan dan bila anda capek, anda bisa berubah menjadi anak kecil yang asyik bermain-main kata tanpa dibebani pesan di dalamnya.

Anda hanya menceritakan segala peristiwa yang PERNAH anda alami di masa kecil, di masa lampau, beberapa ratus tahun yang lalu. Karena peristiwa yang anda tulis sama pentingnya dengan pesan yang terkandung dalam tulisan anda.



4. Memandang diri dan sekeliling dengan mata anak kecil.



Puisi yang anda tulis masuk akal karena berada di dunia kata, dan menjadi tak masuk akal kalau kita berusaha mengembalikannya ke dunia nyata. Contoh : PERAHU KERTAS



Tidak ada teknik khusus dalam menulis SAPARDIAN VERSI 3. Anda bebas menyusunnya sepanjang berpedoman pada empat hal di atas. Sekurang-kurangnya tiga hal paling atas.

Adakalanya mengawali kalimat dengan AGAR, DAN, ADALAH.

Anda bisa berulang-ulang mengawali kalimatnya dengan kata tersebut. Bebas.



Barangkali bisa membantu, ini yang biasa saya lakukan



1. Susunlah sapardian seperti paragrap awal dan akhir novel. Atau seperti fiksimini yang super pendek. Sehabis judul langsung puntiran cerita.



2. Gunakan perumpamaan untuk mengetatkan bahasa
AS Laksana pernah menulis sebuah contoh untuk ini.

Perhatikan
______

Tulisan fiksi sangat akrab dengan perumpamaan. Ada perumpamaan yang ditulis dengan upaya sangat keras untuk menjadi unik. Ada perumpamaan yang terasa simpel dan wajar, seolah-olah ditulis tanpa niat untuk mengejutkan pembaca.

Jenis yang bekerja sangat keras kira-kira seperti ini: “Dia datang hari itu dengan penampilan sangat kuyu, seperti musafir yang sudah tujuh hari mengembarai gurun pasir dan tidak menemukan setetes pun air sepanjang perjalanannya yang sengsara.”

Garcia Marquez menggambarkan rombongan wanita tua yang berjalan sangat lesu di bawah cahaya suram dengan perumpamaan yang simpel dan akurat “seperti gambar-gambar dalam mimpi.”

Faulkner membuat perumpamaan tentang bau tubuh perempuan dalam fiksinya “seharum tanaman liar.”

Boris Pasternak menggambarkan tetes darah yang jatuh pada permukaan salju: “merah tua seperti buah ceri.”

Saya akan memilih cara seperti mereka saja, simpel dan tidak bekerja keras: “Dia memandangi saya lekat-lekat, sorot matanya sehangat cahaya sore.”


_______

Semoga mudah dipahami. Slide berikutnya untuk latihannya 💪

Posted on

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai