MARI MENAFSIR SAJAK SERULING MILIK SAPARDI DJOKO DAMONO

Mari kita menafsir sajak Seruling milik Sapardi Djoko Damono



Sajak ini termuat dalam buku Perahu Kertas. (Seperti foto di bawah ini)


Sajak ini datar, seperti tak ada klimaks,, tidak punya ending yang menarik, melempem di bagian akhir. Anda setuju?



Ya, kenapa tidak?!



IA MERABA-RABA LUBANG-LUBANGNYA SENDIRI YANG SENANTIASA MENGANGA.



Endingnya cuma meneruskan kisahnya saja, tanpa ada kejutan apa-apa. Tak ada emosi dari penulis yang nampak.



Tunggu dulu, coba perhatikan “LUBANG-LUBANGNYA” kok diulang dua kali. Adakah yang penting?



Seruling adalah alat musik tiup yang memiliki lubang nada. Sepertinya SDD ingin mengatakan sesuatu. Tapi apa? Kenapa seruling? Apa menariknya? Kenapa lubang-lubang ini diulang dua kali? Apakah berarti fokusnya ada pada lubang nada?



Coba kita ganti kata LUBANG dengan kata kesedihan, kehilangan, hampa


Atau kita ganti kata LUBANG dengan kata bahagia
Dan bayangkan seruling adalah manusia.



Merasa menemukan sesuatu?

Posted on

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai